<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180</id><updated>2012-02-07T14:26:37.090+07:00</updated><category term='kepada putra-putriku terkasih'/><category term='tiada hari tanpa asa ...'/><title type='text'>JOKO PRAYITNO's BLOG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-720740831225983917</id><published>2009-07-06T10:29:00.002+07:00</published><updated>2009-07-06T10:48:32.176+07:00</updated><title type='text'>Wahai Anakku, Beginilah Cara Minum Rasulullah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SlFzyMugAVI/AAAAAAAAAP4/EK2AJgHwkyg/s1600-h/S3020266.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SlFzyMugAVI/AAAAAAAAAP4/EK2AJgHwkyg/s200/S3020266.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355188738167144786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p&gt;Penyusun: Ummu Aiman&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ustadz Nur Kholis bin Kurdian&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ibu muslimah yang semoga dirahmati oleh Allah, mendidik anak adalah salah satu tugas mulia seorang ibu. Ketika kita berusaha untuk mendidik anak kita sebaik mungkin dan dengan mengharapkan ridha Allah, maka usaha kita tersebut dapat berbuah pahala. Bagaimana tidak, bukankah membina anak agar menjadi generasi yang sholih dan sholihah adalah salah satu bentuk jihadnya para ibu?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu bentuk pengajaran kepada si kecil adalah mengajarinya tentang adab dan akhlak mulia dalam Islam. Karena bagaimanapun, seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan pribadi anak. Jika sang ibu berakhlak baik maka si kecil pun akan meniru ibunya karena biasanya waktu anak lebih banyak bersama ibunya. Diantara adab yang semestinya kita ajarkan kepada si kecil adalah adab ketika minum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Inilah Adab Minum Rasulullah &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas minum merupakan aktivitas yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga hal ini merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan pengajaran bagi anak-anak kita dan melatihnya agar terbiasa minum sesuai dengan tauladan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Beberapa adab minum yang dicontohkan oleh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; antara lain:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Meniatkan minum untuk dapat beribadah kepada Allah agar bernilai pahala. &lt;p&gt;Segala perkara yang mubah dapat bernilai pahala jika disertai dengan niat untuk beribadah. Wahai ibu, maka niatkanlah aktivitas minum kita dengan niat agar dapat beribadah kepada Allah. Dan janganlah lupa memberitahukan anak tentang hal ini. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Memulai minum dengan membaca basmallah. &lt;p&gt;Diantara sunnah Nabi adalah mengucapkan basmallah sebelum minum. Hal ini berdasarkan hadits yang memerintahkan membaca ‘bismillah’ sebelum makan. Bacaan bismillah yang sesuai dengan sunnah adalah cukup dengan bismillah tanpa tambahan ar-Rahman dan ar-Rahim.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Amr bin Abi Salamah, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.”&lt;/em&gt; (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam silsilah hadits shahihah, 1/611 Syaikh al-Albani mengatakan, “Sanad hadits ini shahih menurut persyaratan Imam Bukhari dan Imam Muslim)Wahai ibu, jangan lupa untuk mengingatkan anak-anak kita untuk membaca ‘bismillah’ ketika hendak minum, agar setan tidak ikut serta menikmati makanan dan minuman yang sedang kita konsumsi. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Minum dengan tangan kanan. &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;em&gt;“Jika salah seorang dari kalian hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” &lt;/em&gt;(HR. Muslim)Ajarkanlah pada si kecil untuk selalu menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum. Seringkali si kecil lupa meskipun telah kita ajari, apalagi ketika menyantap makanan ringan (&lt;em&gt;snack&lt;/em&gt;) bersama teman mainnya. Nah, saat kita melihatnya, ingatkanlah ia. Janganlah bosan dan merasa jemu untuk mengingatkan anak kita. Insyaa Allah jika kita melakukannya dengan ikhlas mengharap ridha Allah, Allah akan mengganti usaha kita tersebut dengan pahala. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tidak bernafas dan meniup air minum. &lt;p&gt;Termasuk adab ketika minum adalah tidak bernafas dan meniup air minum. Ada beberapa hadits mengenai hal ini:Dari Abu Qatadah, Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air minumnya.”&lt;/em&gt; (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Ibnu Abbas, &lt;em&gt;“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” &lt;/em&gt;(HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani).Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam Zaadul Maad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupinya. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bernafas tiga kali ketika minum. &lt;p&gt;Dari Anas bin Malik &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu &lt;/em&gt;beliau mengatakan, “Ketika Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; minum beliau mengambil nafas di luar wadah air minum sebanyak tiga kali.” Dan beliau bersabda, &lt;em&gt;“Hal itu lebih segar, lebih enak dan lebih nikmat.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anas mengatakan, “Oleh karena itu ketika aku minum, aku bernafas tiga kali.” (HR. Bukhari no. 45631 dan Muslim no. 2028). Yang dimaksud bernafas tiga kali dalam hadits di atas adalah bernafas di luar wadah air minum dengan menjauhkan wadah tersebut dari mulut terlebih dahulu, karena bernafas dalam wadah air minum adalah satu hal yang terlarang sebagaimana penjelasan di atas. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Larangan minum langsung dari mulut teko/ceret. &lt;p&gt;Dari Abu Hurairah, beliau berkata, “Rasulullah melarang minum langsung dari mulut qirbah (wadah air yang terbuat dari kulit) atau wadah air minum yang lainnya.” (HR Bukhari no. 5627).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut sebagian ulama minum langsung dari mulut teko hukumnya adalah haram, namun mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh. Ketahuilah wahai para ibu muslimah, yang sesuai dengan adab islami adalah menuangkan air tersebut ke dalam gelas kemudian baru meminumnya.Dari Kabsyah al-Anshariyyah, beliau mengatakan, “Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; masuk ke dalam rumahku lalu beliau minum dari mulut qirbah yang digantungkan sambil berdiri. Aku lantas menuju qirbah tersebut dan memutus mulut qirbah itu.” (HR. Turmudzi no. 1892, Ibnu Majah no. 3423 dan dishahihkan oleh Al-Albani)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air. Untuk mengkompromikan dengan hadits-hadits yang melarang, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqalani mengatakan, “Hadits yang menunjukkan bolehnya minum dari mulut wadah air itu berlaku dalam kondisi terpaksa.” Mengompromikan dua jenis hadits yang nampak bertentangan itu lebih baik daripada menyatakan bahwa salah satunya itu mansukh (tidak berlaku).”(Fathul Baari, X/94) &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Minum dengan posisi duduk. &lt;p&gt;Terdapat hadits yang melarang minum sambil berdiri. Dari Abu Hurairah &lt;em&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda, &lt;em&gt;“Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.&lt;/em&gt;” (HR. Ahmad no 8135)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun disamping itu, terdapat pula hadits yang menunjukkan bahwa Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; minum sambil berdiri. Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)Dalam hadits yang pertama Rasulullah melarang minum sambil berdiri sedangkan hadits kedua adalah dalil bolehnya minum sambil berdiri. Kedua hadits tersebut adalah shahih. Lalu bagaimana mengkompromikannya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengenai hadits di atas, ada ulama yang berkesimpulan minum sambil berdiri diperbolehkan, meski yang lebih utama adalah minum sambil duduk. Diantara ulama tersebut adalah Imam Nawawi dan Syaikh Utsaimin. Meskipun minum sambil berdiri diperbolehkan, namun yang lebih utama adalah sambil duduk karena makan dan minum sambil duduk adalah kebiasaan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Minum sambil berdiri tidaklah haram akan tetapi melakukan hal yang kurang utama. &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menutup bejana air pada malam hari. &lt;p&gt;Biasakan diri kita untuk menutup bejana air pada malam hari dan jangan lupa mengajarkan anak kita tentang hal ini. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tutuplah bejana-bejana dan wadah air. Karena dalam satu tahun ada satu malam, ketika ituturun wabah, tidaklah ia melewati bejana-bejana yang tidak tertutup, ataupun wadah air yang tidak diikat melainkan akan turun padanya bibit penyakit.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim) &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Puas dengan minuman yang ada dan tidak mencelanya.&lt;br /&gt;Ajarkan pula kepada anak, bahwa kita tidak boleh mencela makanan walaupun kita tidak menyukainya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Para ibu muslimah, itulah beberapa adab ketika minum sesuai kebiasaan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Alangkah senangnya hati ini ketika kita melihat anak-anak kita meniru kebiasaan Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Dengan membiasakan adab islami kepada anak semenjak kecil, Insya Allah saat dewasa kelak anak-anak akan lebih mudah untuk melaksanakan adab-adab dalam islam dalam kesehariannya, karena ia sudah terbiasa. Maka janganlah bosan untuk mengingatkan si kecil. Semoga Allah membalas usaha kita dengan pahala yang berlipat ganda. Amiin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disusun ulang dari:&lt;br /&gt;Artikel Ustadz Aris Munandar tentang “Adab-Adab Makan Seorang Muslim” di &lt;a title="muslim.or.id" href="http://muslim.or.id/" target="_blank"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Minhaajul Muslim&lt;/em&gt;, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-720740831225983917?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/720740831225983917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=720740831225983917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/720740831225983917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/720740831225983917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2009/07/wahai-anakku-beginilah-cara-minum.html' title='Wahai Anakku, Beginilah Cara Minum Rasulullah'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SlFzyMugAVI/AAAAAAAAAP4/EK2AJgHwkyg/s72-c/S3020266.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-749490749558601252</id><published>2009-05-07T11:22:00.001+07:00</published><updated>2009-05-07T11:23:43.778+07:00</updated><title type='text'>Jangan Hinakan Nikmat Allah</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: Muhammad Nuh&lt;/span&gt; &lt;hr size="1" align="left" color="#999999" noshade="noshade"&gt;  &lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignright size-medium wp-image-510" style="margin: 5px; float: right;" title="al-fatihah" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/04/al-fatihah.jpg" alt="" width="250" height="200" /&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com&lt;/strong&gt; - Hidup kadang tak ubahnya seperti untaian benang panjang yang punya dua warna. Silih berganti warna itu menghias untaian benang. Ada warna suka, ada duka. Benang akan tampak menarik ketika terhias suka. Dan, akan dibenci ketika warna duka terlalui.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Namun demikian, sebagian orang kadang lupa bahwa seperti itulah warna kehidupan. Mungkin, keterbatasan rasa manusia yang bahagia ketika suka. Dan sedih ketika duka. Tak jarang, keterbatasan itu pun menggiring pandangannya kepada Pembuat Hidup. Bahwa, suka adalah kemuliaanNya. Dan, duka adalah penghinaanNya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam surah Al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah swt berfirman, “Ada pun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanKu. Ada pun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fakta takaran kemuliaan dan kehinaan dalam pandangan sebagian manusia berkait dengan seberapa besar anugerah Allah berupa kenikmatan. Semakin kaya seseorang, semakin besar kemuliaan yang ia terima. Dan semakin miskin seseorang, seperti itulah kehinaan yang Allah berikan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagian manusia mungkin merasa sulit untuk menterjemahkan bahwa hidup bukan dua takaran tadi. Teramat sulit buat mereka untuk menggunakan kacamata iman bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian tidak melulu melekat pada satu warna. Dalam duka memang ada ujian. Pun, dalam suka ada ujian.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penjelasannya begitu gamblang ketika Allah swt berfirman dalam surah Al-Anbiyaa ayat 35. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seperti itulah Thalut ketika sang komandan ini ingin mendapatkan bukti kualitas pasukannya. Ia tidak ingin para pejuangnya berorientasi hanya pada kesenangan hidup. Dan tidak lagi punya semangat ketika hidup tak lagi mampu memberikan kesenangan. Karena itu, mereka harus diuji.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ujian pun dimulai. Orang yang berkualitas biasanya akan menangkap sebuah isyarat tes. Terlebih ketika kisi-kisi tes itu sudah digambarkan begitu jelas: ketika kita melalui sungai, dilarang meminum airnya kecuali dengan cidukan tangan. Penjelasan yang begitu jelas. Tapi, begitulah orang yang tak berkualitas. Penjelasan tinggallah penjelasan. Kelakuan tak juga berubah. Kenyataannya, sedikit sekali dari pasukan itu yang menikmati air sungai dengan cidukan tangan. Selebihnya, larut dalam kenikmatan. (Al-Baqarah: 249)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, ketika nikmat Allah diterjemahkan hanya dari satu sisi yaitu kesenangan, di situlah orang terjebak dalam kedangkalan nalarnya sendiri. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, atas segala nikmatNya. Namun, ketika anugerah menempati sisi lain yang tak sesuai harapan, syukur dan terima kasihnya lenyap. Syukurnya menguap bersama kecewanya: Allah menghinakan saya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, cocok atau tidaknya sebuah harapan dengan kenyataan yang Allah berikan, kalkulasinya begitu luas. Mungkin, kita pernah kecewa ketika kereta yang kita kejar-kejar sehingga harus ditebus dengan lewatnya sarapan pagi, ternyata harus berlalu mendahului kita. Kita kecewa. Padahal, itulah nikmat Allah. Karena, kereta itu ternyata mengalami kecelakaan. Allah menyelamatkan kita dengan sesuatu yang sebelumnya kita anggap mengecewakan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita mungkin pernah kecewa ketika calon suami atau isteri yang selangkah lagi akan syah menjadi pendamping, menyatakan pembatalan sepihak. Kita kecewa. Padahal, di saat itulah Allah sedang memberikan kebaikan. &lt;span lang="SV"&gt;Karena ternyata, beberapa bulan kemudian sang calon meninggal dunia karena penyakit dalam yang kronis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kekecewaan-kekecewaan itu mungkin bisa dianggap wajar. Karena ada sesuatu yang belum kita peroleh. Dan sesuatu itu memang mahal. Bahkan, seorang Nabi Musa a.s. pun harus bersusah payah mendapatkan sesuatu itu. Dan sayangnya, ia sempat gagal di tengah jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pelajaran itu bisa kita lihat ketika Allah swt mengisahkan dua hambaNya yang mulia: Musa a.s. dan Khidr a.s. Dalam surah Al-Kahfi ayat 65 hingga 82, Allah swt. menggambarkan bagaimana Musa a.s. gagal menangkap maksud tiga tindakan yang tidak menyenangkan Khidr a.s. Yaitu, melubangi perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Padahal, ketiga tindakan Khidr a.s. itu punya maksud yang amat baik. Di situlah Musa a.s. belajar tentang anugerah kebaikan dan keburukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jadi, ridha atas segala sesuatu yang Allah berikan adalah pijakan awal dari lahirnya rasa syukur seorang hamba. Terhadap anugerah apa pun: besar atau kecil. Ridha dengan anugerah yang besar adalah kesiapan diri agar senantiasa menjaga amanah, agar nikmat tidak terselewengkan dalam maksiat. Dan ridha dengan yang kecil adalah kebersihan hati dari buruk sangka atas pemberian Allah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seorang sahabat Rasul pernah terperanjat ketika malam pertamanya tiba. Ia seperti hampir tak menerima kenyataan wajah isterinya. Ada keraguan terselip di situ. Bahkan, ketidaksukaan pun nyaris mendominasi hatinya. Seolah, hatinya bicara, “Ah, seperti inikah nikmat yang Allah berikan kepada saya?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Namun, semua itu sirna seketika saat sang isteri mampu menangkap gelisah itu. Ia langsung membacakan sebuah ayat di surah An-Nisa. “Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Ketika ridha menutup segala prasangka, syukur terungkap dengan seketika. Ia muncul dari hati yang dalam. Bersih tanpa pamrih. Lahir dari kesadaran bahwa tak seorang pun yang pernah dan akan memiliki sesuatu. Tak semua kesenangan melahirkan bahagia. Dan tak semua kesusahan membawa celaka. Semuanya pinjaman dari Allah. Dan akan kembali kepada-Nya pula. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Jangan hinakan nikmat Allah. Syukurilah anugerah Allah apa adanya. Justru, dalam keridhaan dan syukur itulah kenikmatan terasa ganda. Kita tidak sedang menikmati anugerah fisik saja. Melainkan, belaian kasih sayang Allah yang tak hingga. Nikmatilah warna-warni hidup. &lt;/span&gt;Karena hidup memang penuh warna.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;http://www.dakwatuna.com/2008/jangan-hinakan-nikmat-allah/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-749490749558601252?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/749490749558601252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=749490749558601252' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/749490749558601252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/749490749558601252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2009/05/jangan-hinakan-nikmat-allah.html' title='Jangan Hinakan Nikmat Allah'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-845011494164958547</id><published>2009-05-07T11:15:00.001+07:00</published><updated>2009-05-07T11:17:01.364+07:00</updated><title type='text'>Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SgJgpmtrSuI/AAAAAAAAAPw/o-9V3IBfqPA/s1600-h/jafar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SgJgpmtrSuI/AAAAAAAAAPw/o-9V3IBfqPA/s200/jafar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332931176643119842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ya Bunayya&lt;/i&gt;,..engkau buah hati kami. Padamu tergantung masa depan kami. Dunia kami dan akhirat kami. Hilang letih dan lelah kami ketika melihat engkau beranjak dewasa tumbuh dengan akhlak mulia. Wahai anakku,… engkau hidup di penghujung zaman yang semakin banyak kerusakan dan fitnah yang menyambar setiap detik nafasmu. Jikalah tidak engkau bergantung pada Zat Yang Maha Kuat dan Kuasa pada siapa lagi engkau kan berlari.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kami tidak perduli melihat para orang tua yang sibuk memilih dunia untuk belahan jiwa mereka. Yang berkorban dengan apa saja agar anak-anaknya berhasil meraih pangkat dan kedudukan di hati manusia. Yang bila mana kami lupa memanggil anaknya dengan nama biasa, maka mereka akan segera tergesa-gesa meralat,.. maaf anak kami adalah seorang dokter panggillah nama depannya dengan jabatannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Duhai penyejuk hati yang gundah,… kami menginginkan dunia hanya sebagai bekal untukmu menuju akhirat yang abadi. Karena itu kami tidak kecewa bila mendapati nilai C pada matematikamu atau fisikamu. Tetapi sungguh kami akan menangis dan berduka bila engkau lalai pada perintah Rabbmu.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Duhai penyejuk mata,…. di hari yang semakin mendekati kepunahan. Tak lelah kami mendidikmu dengan Al-Qur’an. Betapa engkau sangat kami inginkan menjadi penghafal dan pengamal Al Qur’an. Siang malam kami bersabar dan tak kecewa membetulkan bacaanmu yang yang tertatih-tatih dan terlupa dari satu ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Demikian pula doa  senantiasa kami panjatkan untuk kalian agar Allah memberi kemudahan.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Untukmu &lt;i&gt;bunayya&lt;/i&gt;,… bersabarlah di hari yang sulit ini. Sungguh engkau akan menikmati jerih payahmu&lt;br /&gt;ketika dewasa nanti.Janganlah engkau lupakan kami dalam doamu .Semoga Allah di kemudian hari, memberi kelapangan pada kubur kami yang sempit nanti.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;i&gt;Ya bunayya&lt;/i&gt;,…. engkau pasti kan bertanya, mengapa orang tua kami melakukan hal ini untuk kami? Jawabnya,… karena ia adalah suatu kebiasaan yang telah di wariskan oleh para pendahulu kita(salafus shalih).&lt;br /&gt;Begitu pula telah kami dapati dalam ucapan Nabimu yang mulia &lt;i&gt;shalallahu alaihi wassalam&lt;/i&gt; diriwayatkan dari Buraidah bin Hushaib &lt;i&gt;radhiyallahu anhu&lt;/i&gt; ia berkata: “Pernah ketika aku sedang berada di sisi Rasulullah &lt;i&gt;shalallahu alaihi wassalam&lt;/i&gt; maka aku pernah mendengar beliau bersabda,&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;i&gt;“Al-Qur’an itu akan menemui ahlinya pada hari kiamat ketika kubur telah terbelah seperti seorang laki-laki yang berwajah putih berseri. Ia berkata pada laki-laki tadi,”Apakah kamu mengenaliku?” dia menjawab,”Aku tidak mengenalimu” Ia berkata,”Aku adalah temanmu, Al-Qur’an yang dulu selalu membuat kering tenggorokanmu di siang hari dan begadang di malam hari. Dan setiap pedagang tentulah mengharapkan keuntungan dari barang dagangannya, dan kamu pada hari ini mendapatkan keuntungan dari usahamu.”Kemudian di berikan untuknya kerajaan di tangan kanannya dan keabadian (surga) ditangan kirinya, di letakkan mahkota kebesaran di kepalanya, dan dikenakan bagi kedua orangtuanya dua pakaian (teramat indah) yang belum pernah dikenakan oleh penduduk bumi. Keduanya berkata: ”Dengan amalan apa kami bisa memperoleh pakaian seperti ini?” Dikatakan: “Dengan (kesabaran)mu dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anakmu” Kemudian diperintahkan kepadanya, Bacalah (Al-Qur’an) dan naikilah tangga-tangga surga dan masuklah ke kamar-kamarnya” Maka dia terus naik (derajatnya) selama dia membacanya dengan cepat atau dengan cara tartil (perlahan-lahan)&lt;/i&gt;” &lt;strong&gt;(HR. Ahmad)&lt;/strong&gt;&lt;sup&gt;&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/#footnote_0_508" title="Hadits riwayat Ahmad dalam kitab Al-Musnad, 5/238" target="_blank"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Dan juga dalam hadits Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu anhu&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;marfu’&lt;/i&gt; (sampai) kepada &lt;i&gt;Nabi shalallahu alaihi wassalam&lt;/i&gt; beliau bersabda,&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;“…. dan dikenakan kepada kedua orangtuanya dua pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia dan seisinya. Keduanya berkata, “Ya Rabb, Bagaimana kami bisa mendapatkan balasan seperti ini !! dikatakan :”&lt;i&gt;Dengan mendidik Al-Qur’an kepada anak-anakmu&lt;/i&gt;” &lt;strong&gt;(HR. Ath-Thabrani)&lt;/strong&gt;.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://jilbab.or.id/archives/508-wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala-itu/#footnote_1_508" title="Hadits riwayat Ath-Thabrani dalam kitab Al Ausath, 6/51, hadits no.5764. Syaikh Al-Bani menyebutkan hadits ini dalam hadits ini dalam kitab Silsilah Hadits Shahih, 6/792, hadits no.2829." target="_blank"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Wahai bunayya,.. betapa kami menginginkan pahala itu. Kami-pun menyadari tidaklah mudah untuk mendapatkannya. Karena memang segala sesuatu harus diraih dengan kerja keras yang gigih dan kesabaran yang tak bertepi. Lelah dan letih kami akan di hargai-Nya karena Allah Yang Maha Mulia telah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;i&gt;“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39) dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan kepadanya (40) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (41).&lt;/i&gt; &lt;strong&gt;(An-Najm :39-41)&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Sungguh kami yakin wahai bunayya,… jika sekiranya para orangtua mengetahui keutamaan dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya karena mengajarkan Al-Qur’an pada buah hati mereka, niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mengajarkan anak-anaknya Al-Qur’an, membimbing mereka untuk selalu membaca, menghayati maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan yang fana ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Sumber bacaan :&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;li&gt;Tafsir  Ibnu katsir jilid 9 , Pustaka Imam ASy-Syafi’i, Jakarta, 2008.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keagungan Al-Qur’an Al-karim, Syaikh Mahmud Al Dosari, Maktabah Darus salam, Riyadh, 2006.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Murajaah oleh : Ustadz Eko Hariyanto, LC&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-845011494164958547?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/845011494164958547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=845011494164958547' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/845011494164958547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/845011494164958547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2009/05/wahai-anakku-kami-menginginkan-pahala.html' title='Wahai Anakku, Kami Menginginkan Pahala Itu'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SgJgpmtrSuI/AAAAAAAAAPw/o-9V3IBfqPA/s72-c/jafar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2136006730067096482</id><published>2008-05-22T16:36:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:34.450+07:00</updated><title type='text'>Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDVDezGEeDI/AAAAAAAAAKU/7Ue0zulNN4k/s1600-h/S3020095.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203139140887279666" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDVDezGEeDI/AAAAAAAAAKU/7Ue0zulNN4k/s200/S3020095.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;a title="Profile of Dr. Attabiq Luthfi, MA" href="http://www.dakwatuna.com/author/attabiq"&gt;Dr. Attabiq Luthfi, MA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Kirim" href="http://www.dakwatuna.com/2007/meraih-pahala-dari-fitnah-harta-dan-anak/email/" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="" href="http://www.dakwatuna.com/2007/meraih-pahala-dari-fitnah-harta-dan-anak/print/" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)&lt;br /&gt;Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbedaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”. Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.&lt;br /&gt;Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.&lt;br /&gt;Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”. Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.&lt;br /&gt;Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)&lt;br /&gt;Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.&lt;br /&gt;Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.&lt;br /&gt;Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak. Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.&lt;br /&gt;Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2136006730067096482?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2136006730067096482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2136006730067096482' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2136006730067096482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2136006730067096482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/05/meraih-pahala-dari-fitnah-harta-dan.html' title='Meraih Pahala dari Fitnah Harta dan Anak'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDVDezGEeDI/AAAAAAAAAKU/7Ue0zulNN4k/s72-c/S3020095.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7687412406674758646</id><published>2008-05-22T16:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:34.586+07:00</updated><title type='text'>Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDU7azGEeCI/AAAAAAAAAKM/lCV8kymINK8/s1600-h/S3020033.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203130276074780706" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDU7azGEeCI/AAAAAAAAAKM/lCV8kymINK8/s200/S3020033.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Oleh: &lt;a title="Profile of Kodar Slamet, SPd" href="http://www.dakwatuna.com/author/kodar"&gt;Kodar Slamet, SPd&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya kamu terhadap umat lainnya. [HR. Al-Hakim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah anjuran Rasulullah saw kepada umatnya untuk memiliki anak keturunan.&lt;br /&gt;Sehingga lahirnya anak bukan saja penantian kedua orang tuanya, tetapi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah saw. Dan tentu saja anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Muhammad saw. Berarti, ada satu amanah yang dipikul oleh kedua orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anak—yang titipan Allah itu—menjadi bagian dari umat Muhammad saw.&lt;br /&gt;Untuk menjadi bagian dari umat Muhammad saw. harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah swt.:&lt;br /&gt;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al-Fath, 48: 29]&lt;br /&gt;Jadi karakteristik umat Muhammad saw adalah: [1] keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip, [2] berkasih sayang terhadap sesama umat Muhammad, [3] mendirikan shalat, [4] terdapat dampak positif dari aktivitas shalatnya, sehingga orang-orang yang lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.&lt;br /&gt;Untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad saw. bisa kita mengambil dari caranya Nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [Ibrahim: 37-41]&lt;br /&gt;Dari doanya itu kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa kita ketahui, kedua anaknya—Ismail dan Ishaq—menjadi manusia pilihan Allah:&lt;br /&gt;Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah]. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.&lt;br /&gt;Kendala yang mungkin kita akan temukan adalah teladan—padahal belajar yang paling mudah itu adalah meniru—dari ayah yang berangkat kerjanya ba’da subuh yang mungkin tidak sempat ke masjid dan pulangnya sampai rumah ba’da Isya, praktis anak tidak melihat contoh shalat di masjid dari orang tuanya. Selain itu, kendala yang sering kita hadapi adalah mencari masjid yang ramah anak, para pengurus masjid dan jamaahnya terlihat kurang suka melihat anak dan khawatir terganggu kekhusu’annya, dan ini dipengaruhi oleh pengalamannya selama ini bahwa anak-anak sulit untuk tertib di masjid.&lt;br /&gt;Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad saw sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad saw dengan selainnya. Shalat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak: suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.&lt;br /&gt;Proses tarbiyah anak dalam melakukan shalat, sering mengalami gangguan dari berbagai kalangan dan lingkungan. Dari pendisiplinan formal di sekolah dan di rumah, kadang membuat kegiatan [baca: pendidikan] shalat menjadi kurang mulus dan bahkan fatal, terutama cara membangun citra shalat dalam pandangan anak. Baru-baru ini, ada seorang suami yang diadukan oleh istrinya tidak pernah shalat kepada ustadzahnya, ketika ditanya penyebabnya, ternyata dia trauma dengan perintah shalat. Setiap mendengar perintah shalat maka terbayang mesti tidur di luar rumah, karena ketika kecil bila tidak shalat harus keluar rumah. Sehingga kesan yang terbentuk di kepala anak kegiatan shalat itu tidak enak, tidak menyenangkan, dan bahkan menyebalkan. Kalau hal ini terbentuk bertahun-tahun tanpa ada koreksi, maka sudah bisa dibayangkan hasilnya, terbentuknya seorang anak [muslim] yang tidak shalat.&lt;br /&gt;Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang. Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah saw berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik karena—sebagaimana kita ketahui—Rasulullah memiliki akhlaq yang baik seperti pujian Allah di dalam al-Quran: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berakhlaq yang agung.” [Al-Qalam, 68: 4]&lt;br /&gt;Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]. Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.&lt;br /&gt;Cara keempat adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.&lt;br /&gt;Cara kelima adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/kodar/"&gt;http://www.dakwatuna.com/author/kodar/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7687412406674758646?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7687412406674758646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7687412406674758646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7687412406674758646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7687412406674758646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/05/mendidik-anak-cara-nabi-ibrahim.html' title='Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDU7azGEeCI/AAAAAAAAAKM/lCV8kymINK8/s72-c/S3020033.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7077260636399529634</id><published>2008-05-22T11:09:00.004+07:00</published><updated>2008-05-22T11:22:14.063+07:00</updated><title type='text'>Bercermin dengan "SALAM" pada sholat kita</title><content type='html'>Rasulullah SAW bersabda, “"Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam." (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Amir bin Sa'ad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberi salam ke sebelah kanan dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya. (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): "As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh." Dan kesebelah kiri: "As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi." (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis shalat mi’raj, Rasulullah saw. bersabda, “ …. Kemudian, aku menoleh ke kanan. Tiba – tiba aku mendapati barisan-barisan para malaikat, para nabi, dan para rasul Allah menyuruhku, “Hai Muhammad, berilah salam !” maka aku berucap “ Assalam ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh” (salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah atas kalian). Lalu Dia berfirman, “Ya Muhammad, Akulah as Salam, at Tahiyyah, dan ar Rahmah, sedangkan keberkahan adalah engkau dan keturunanmu. ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi salam, merupakan penutup dari seluruh rangkaian perjalanan dalam shalat kita. Lakukan salam dengan menengok ke kanan dengan tujuan memberi salam kepada para malaikat dan hamba –hamba yang shaleh, seraya berkata, “Assalam ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh” (salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah atas kalian), kemudian menengok ke kiri dengan memberi salam dengan ucapan, “ Assalam ‘alaikum warahmatullah” (salam sejahtera serta rahmat atas kalian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sirr As Sholah, mengutip perkataan Imam Ja’far Ash Shadiq as. dalam Mishbah asy Syari’ah, dikatakan, “ Makna salam di akhir setiap shalat adalah aman. Artinya barangsiapa melaksanakan perintah Allah dan sunnah Nabi-Nya saw. dengan hati yang khusuk, ia akan memperoleh aman dari bencana dunia dan bebas dari siksa akhirat. As Salam adalah salah satu nama Allah ta’ala yang dititipkan kepada makhluk-Nya agar mereka menggunakan maknanya dalam berbagai muamalah, amanat, hubungan, dan menegaskan persahabatan diantara mereka serta mengesahkan pergaulan mereka. Apabila engkau igin meletakkan salam pada tempatnya dan menunaikan maknanya, maka takutlah kepada Allah agar Dia menyelamatkan agama, hati, dan akalmu. Jangan mengotorinya dengan gelap maksiat. Hendaklah engkau memberi salam kepada para penjagamu. Jangan membuat mereka bosan dan jemu, dan jangan menjadikan mereka berlepas diri darimu dengan perlakuanmu yang buruk terhadap mereka, lalu terhadap temanmu, lalu musuhmu. Karena orang yang tidak memberi salam kepada dia yang paling dekat dengannya, tidak akan memberi salam terhadap dia yang paling jauh darinya. Dan barangsiapa yang tidak meletakkan salam pada tempat-tempatnya ini, maka tidak ada salam dan taslim, dan ia telah berdusta dalam salamnya walaupun ia menyebarkannya kepada makhluk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui, shalat merupakan mi’rajul mukminin. Dalam shalat kita bisa berdialog, berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla. Dalam shalatpun terdapat tangga – tangga perjalanan ruhani seseorang. Ketika shalat akan berakhir, maka “permohonan akan aman” dari segala “hijab” terhadap penyaksian Allah adalah hal yang sangat didambakan. Inilah makna “aman yang sebenarnya”. Bagi yang menghayati shalat secara utuh, maka tempat shalat yang sesungguhnya tidak hanya di dalam “masjid”, namun di seluruh hamparan bumi ini. Ketika kita bekerja, berhubungan dengan orang lain, ketika kita melakukan aktivitas keduniaan, dipandang sebagai aktivitas berjalan memenuhi undangan Allah dan senantiasa menegakkan jalan yang lurus. Semua makhluk, kejadian yang ada di muka bumi adalah hamparan bukti – bukti terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Adanya segala makhluk justru menjadi wasilah untuk lebih mengenal Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7077260636399529634?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7077260636399529634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7077260636399529634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7077260636399529634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7077260636399529634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/05/bercermin-dengan-salam-pada-sholat-kita.html' title='Bercermin dengan &quot;SALAM&quot; pada sholat kita'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2861593349931562491</id><published>2008-05-22T09:29:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:34.715+07:00</updated><title type='text'>100 Tahun Kebangkitan Nasional melalui Kenaikan Harga BBM</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDTupTGEd-I/AAAAAAAAAJs/1HyHhwwQJ6Q/s1600-h/Sunset_Leaves_1600.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203045862787545058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDTupTGEd-I/AAAAAAAAAJs/1HyHhwwQJ6Q/s200/Sunset_Leaves_1600.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kenaikan harga BBM sudah nyata di depan mata. Tinggal ketok palu diberlakukan. Opsi terakhir, katanya. Setelah semua opsi diupayakan dan tetap belum dapat menutup defisin APBN. Bunyi headline harian ibukota Hari Ini. Ironisnya, rencana ini dilakukan pada saat bangsa kita baru saja merayakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum itu, gonjang-ganjing harga minyak dunia telah mendahului rasa was-was semakin tingginya beban subsidi pemerintah. Jauh hari pula, launching hemat energi dan pengalihan kepada energi alternatif telah pula dilakukan. Namun kurang memberi dampak yang signifikan. Terlebih lagi dukungan investor dan daya dukung masyarakat yang kurang maksimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, waktu terus berkejaran, Saling mengejar, memenuhi konsumsumsi bahan bakar nasional. Tidak ada jalan lain. Bangsa kita kudu bangkit. Mulai hari ini, kurangi pemakaian BBM. Kembali berkendara yang hemat BBM. Dari diri Kita , saat ini juga ... Kapan Lagi ...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2861593349931562491?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2861593349931562491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2861593349931562491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2861593349931562491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2861593349931562491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/05/100-tahun-kebangkitan-nasional-melalui.html' title='100 Tahun Kebangkitan Nasional melalui Kenaikan Harga BBM'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SDTupTGEd-I/AAAAAAAAAJs/1HyHhwwQJ6Q/s72-c/Sunset_Leaves_1600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3069446487563331741</id><published>2008-04-30T12:37:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:34.841+07:00</updated><title type='text'>Curahan Asa dari Seorang Kawan : Kaum dhuafa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgGW_PdN-I/AAAAAAAAAJk/l2hHjynhpXU/s1600-h/33.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgGW_PdN-I/AAAAAAAAAJk/l2hHjynhpXU/s200/33.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194909162175018978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 class="entry-header"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Beberapa waktu yang lampau, saya sempat dikagetkan dengan pemberitaan di media yang menyatakan bahwa awal tahun 2008, akan diterapkan Perda Pelarangan memberi uang kepada pengemis dan pengamen di  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Jakarta. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Hati saya miris.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bagaimana ini ? Saya mempertanyakannya kepada Islam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Konsep keadilan Islam dalam kelayakan hidup bukan dengan menyamaratakan semua manusia. Seperti yang ditawarkan salah satu isme. Karena justru tidak adil, ketika menyamaratakan bagian untuk usaha dan cara kerja yang berbeda. Konsep keadilan Islam juga bukan menganggap kaum dhuafa sebagai sampah masyarakat. Sebagai lalat pembawa beban dan penyakit, yang pantas bahkan (bisa jadi wajib) untuk disingkirkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Adil adalah mendapatkan bagian sesuai usaha dan cara kerja kita, dengan menyadari kekuasaan mutlak Allah untuk menentukan bagian itu. Yang ini tidak bisa diganggu ganggu. Dengan adanya perbedaan bagian (rezeki) ini, dalam Islam diatur cara untuk merapatkan kesenjangan. Dengan zakat (yang sekaligus pensuci harta), dengan memelihara anak yatim, dan memberi makan orang miskin. Islam menganggap “menyelamatkan” kaum dhuafa adalah cara untuk beribadah kepada Allah.  Kita sebenarnya, menyelamatkan kaum dhuafa untuk menyelamatkan diri kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk anak yatim, Islam memerintahkan untuk memeliharanya (1). Memuliakannya (2). Tidak boleh berlaku sewenang-wenang (3). Menjaga hartanya ( kalau ada), sampai anak yatim tersebut dewasa, mandiri dan bisa mengurus hartanya (4).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk fakir miskin, kita harus menganjurkan orang untuk memberi makan. Kalau tidak, bahaya, cap kita adalah pendusta agama (5) . Fakir miskin juga termasuk kedalam golongan yang berhak menerima zakat pun harta rampasan perang dari umat muslim (6). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Perlu ditekankan, bahwa defenisi Islam untuk orang yang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya, dan tidak pernah berfikir untuk diberi sedekah dan tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain (7) . Jadi orang seperti inilah, yang menyebabkan anda menjadi pendusta agama saat tidak menganjurkan untuk memberinya makan. Dan orang seperti inilah yang berhak terhadap zakat dan bagian dalam harta fa’i.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Meminta-minta didalam Islam sangatlah tidak dianjurkan. Ia hanya pilihan untuk kondisi sangat genting. Kepepet kata orang kita. Karena banyaknya keburukan yang didapat dari meminta. Ketika meminta-minta, orang akan otomatis kehilangan keberkahan harta (8). Dan sesuai konteks, meminta itu untuk menyelamatkan diri dari kondisi kepepet,maka harus sedikit saja. Secukupnya untuk menutupi kekurangan yang ada, tidak boleh untuk memperkaya diri, karena sama dengan meminta bara api (9). Untuk itu, dalam kondisi yang melaratpun, umat Islam harus tetap berusaha mandiri dengan jalan halal. Keringanan dengan jalan meminta-minta ini hanya diperbolehkan karena tiga sebab, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;- pertama seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya; kemudia ia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;- kedua seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;- yang ketiga seorang yang sangat miskin sehingga ada tiga orang yang bijaksana diantara kaumnya mengatakan" si fulan benar-benar miskin" maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selain tiga hal diatas, Rasul menyatakan usaha meminta-minta adalah haram. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dari pemaparan jalan yang ditawarkan Islam diatas jelas bahwa menurunkan Perda Pelarangan Memberi Uang Kepada Pengemis, tidak bijak. Apalagi dengan tujuan utama, kebersihan dan ketertiban. Si Penguasa sama dengan menzalimi pengemis-pengemis dan gelandangan. Tapi terlebih dahulu, dia menzalimi diri sendiri dengan menimbun gunugan dosa kezhaliman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Untuk kondisi seperti &lt;city st="on"&gt;&lt;place st="on"&gt;&lt;/place&gt;&lt;/city&gt;&lt;p&gt;Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; ( dan daerah lainnya ), jalan penyelesaian terbijak adalah dengan pendidikan dan pembinaan. Terlebih dahulu yang dipikirkan penghidupan apa yang dapat mereka usahakan jika tidak mengemis. Lalu di didik dan dibina sehingga mereka bisa berusaha dan mencari nafkah dengan jalan itu. Dan sebaiknya diberi pinjaman modal. Baru setelah semua itu dilakukan , peraturan dibuat dan diterapkan. Kelihatan idealis, tapi ini jalan terang.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Islam mengakui adanya perbedaan nasib dan rezeki. Islam juga melarang umatnya meminta-minta jika tidak terpaksa. Tapi dalam Islam, peminta-minta (apalagi yang memang haknya, masuk ke tiga golongan yang diberi keringanan untuk meminta-minta) BUKAN lalat yang dengan sebuah Perda bisa disingkirkan. Betapa Zalim penguasa yang karena alasan kebersihan dan keamanan , mengambil cara pengusiran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Saya jadi teringat dua kisah. Pertama tentang Amirul Mukminin Umar Bin Khattab, yang memberi keringanan hukuman orang yang mencuri karena kepepet. Ia tidak bisa mencari makan lagi, ia bisa mati kelaparan kalau tidak mencuri. Orang itu diberi keringanan, tidak dihukum potong tangan. Dan tidak sampai disitu, Umar memanggil pemimpin wilayah untuk bertanggung jawab atas rakyatnya yang kelaparan dan harus mencuri untuk makan. Yang kedua, kejadian di bulan Juli 2004, di ITB, saat PKL akan diusir. Dengan proses yang lumayan alot, KM berhasil membujuk ITB untuk membiayai pelatihan dan modal usaha untuk pedagang yang diusir. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Hendaknya seperti dua kisah ini. Pemerintah DKI (dan daerah lain), jangan pernah menganggap pengemis sebagai sampah, tapi sebagai amanah yang harus di penuhi haknya. Karena ada beribu catatan buruk yang harus dipertanggung jawabkan di hari yang dijanjikan, saat hak ini tidak ditunaikan. Haknya adalah mendapat pelatihan dan pendidikan. Bila perlu bekali dengan sedikit modal. Dampingi, hingga mereka mandiri. Karena kemandirian mereka bisa jadi jalan menuju surga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tidak gampang. Sulit malah. Tapi inilah harga untuk mereka yang mengharapkan masuk ke satu dari tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah, dimana tidak ada lagi lindungan yang diberikan. Posisi kehormatan sangat special. Pemimpin yang adil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pemimpin yang adil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Semoga kau mendengar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;thanx for ariefrah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3069446487563331741?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3069446487563331741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3069446487563331741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3069446487563331741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3069446487563331741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/curahan-asa-dari-seorang-kawan-kaum.html' title='Curahan Asa dari Seorang Kawan : Kaum dhuafa'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgGW_PdN-I/AAAAAAAAAJk/l2hHjynhpXU/s72-c/33.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2062877523832248233</id><published>2008-04-30T12:12:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:34.994+07:00</updated><title type='text'>Menunaikan Amanah Kepemimpinan</title><content type='html'>&lt;h4&gt;Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA&lt;/h4&gt;&lt;span class="postedby"&gt; &lt;/span&gt; &lt;hr align="left" color="#999999" noshade="noshade" size="1"&gt;  &lt;div align="right"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgBHfPdN9I/AAAAAAAAAJc/doGF2bQY1oE/s1600-h/a_h150.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgBHfPdN9I/AAAAAAAAAJc/doGF2bQY1oE/s200/a_h150.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194903398328907730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; “&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan &lt;span id="high_1" class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu dan sesungguhnya Allah adalah Maha &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Mendengar lagi Maha Melihat&lt;/em&gt;”. (An-Nisa’ : 58).&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ayat ini meskipun menggunakan redaksi yang umum “&lt;em&gt;kepada kamu sekalian&lt;/em&gt;”, namun secara lebih khusus pembicaraan ayat ini ditujukan kepada para pemimpin dan penguasa seperti yang dipahami oleh Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam yang dinukil oleh Ibnu Katsir.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pemahaman seperti ini sangat tepat, karena merekalah yang memiliki amanah yang besar untuk ditunaikan sehingga mereka diminta untuk menjaga amanah dan pemerintahan tersebut dengan benar dan adil. Jika &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; dan keadilan disia-siakan, maka umat manusia akan binasa dan negeri ini akan hancur.&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, &lt;em&gt;“Bila &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”.&lt;/em&gt; (Bukhari dan Muslim).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sayid Quthb dalam tafsir &lt;em&gt;fi Dzilalil Qur’an&lt;/em&gt; menyimpulkan bahwa amanah yang dimaksud oleh ayat ini harus diawali dengan &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; yang paling besar yang tidak mampu diemban oleh langit, bumi dan gunung sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah swt berfirman: “&lt;em&gt;Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” QS. Al Ahzab: 72.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena dengan terlaksananya amanah &lt;span id="high_2" class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; dengan baik, maka akan terealisir secara otomatis amanah-amanah yang lain, baik terkait dengan amanah kepada Allah swt maupun &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; yang berhubungan dengan sesama hamba dan dengan diri sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Perintah &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; inilah yang berlaku universal  kepada siapapun tanpa melihat sifat dan keadaan orang tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maimun bin Mahran mengatakan,&lt;em&gt; “Tiga hal yang harus ditunaikan, baik kepada orang yang berbakti maupun kepada pelaku maksiat: &lt;strong&gt;&lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt;, janji dan silaturahim&lt;/strong&gt;”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;span class="searchterm1"&gt;Amanah&lt;/span&gt; &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; menjadi prioritas dari ayat di atas dilihat dari keterkaitan antara kalimat dalam ayatnya dengan menggunakan &lt;em&gt;wau athaf&lt;/em&gt;. Bahwa Allah swt menyebutkan perintah “untuk menetapkan hukum diantara manusia dengan adil” setelah perintah menunaikan &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt;. Padahal memutuskan hukum diantara manusia merupakan diantara tugas dan kewajiban seorang pemimpin.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;Ditambah lagi bahwa pada ayat selanjutnya, yaitu pada surah An-Nisa’ : 59, Allah swt menetapkan manhaj dan nilai yang harus dipegang dalam konteks &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta para pemimpin yang telah ditunjuk atau dipilih dengan benar.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;Allah swt menegaskan, &lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta Ulil Amri diantara kamu. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah) jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;QS. An Nisa’: 59.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Imam Ar-Razi memahami ayat di atas dengan melihat korelasi yang erat dengan ayat sebelumnya bahwa setelah Allah swt menggambarkan beberapa karakteristik orang-orang kafir dan ancaman azab untuk mereka, Allah swt kembali menyebutkan beberapa kewajiban dan tugas orang-orang beriman. Begitu juga setelah Allah swt menyebutkan pahala yang besar bagi amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang beriman, maka Allah swt menyebutkan bahwa amal sholeh yang terbesar adalah menunaikan &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; dan berlaku adil dalam memutuskan perkara diantara manusia tanpa terkecuali. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Inilah bentuk amal sholeh yang terbesar dan harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan proporsi dan tingkatan amanah yang diembannya. Bahkan dengan tegas Rasulullah saw menafikan iman dari orang yang tidak bisa menjaga &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt; dengan baik, &lt;em&gt;“Tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa menunaikan &lt;span class="searchterm1"&gt;amanah&lt;/span&gt;”. &lt;/em&gt;HR. Ahmad dan Al Baihaqi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Perihal pentingnya &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; dinyatakan tegas oleh Ibnu Taimiyah: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText2" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Imam Ghazali menegaskan, &lt;em&gt;“Dunia adalah ladang akhirat. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam sejarah Islam yang layak dijadikan panutan, bahwa persoalan kepemimpinan merupakan persoalan yang pertama mendapat perhatian dari para sahabat Rasul setelah Rasulullah saw wafat, adalah memilih pemimpin pengganti Rasulullah saw. Bahkan mereka mendahulukan menyelesaikan persoalan ini dari pada mengubur jasad Rasulullah saw. Kemudian para sahabat sepakat membai’at Abu Bakar dan menyerahkan &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Memang secara prinsip, Islam menginginkan agar segala sesuatu tertata dan diatur dengan baik. Islam membenci kesemrawutan dan kekacauan dalam segala hal. Sampai dalam sholat, Rasulullah saw menyuruh untuk menyamakan dan meluruskan shaf dan mendahulukan orang yang lebih baik ilmu dan bacaannya untuk menjadi imam. Bahkan dalam perjalanan biasa, Rasulullah saw berpesan untuk mengangkat pemimpin diantara mereka yang melakukan perjalanan bersama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: &lt;em&gt;“Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Disinilah urgensi &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; dalam Islam. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Kebaikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kebaikan roda kepemimpinan yang dijalankan di dalamnya. Islam menaruh perhatian yang besar dalam persoalan kepemimpinan. Karenanya ukuran kebaikan sebuah bangsa turut ditentukan dengan kualitas dan nilai &lt;span class="searchterm2"&gt;kepemimpinan&lt;/span&gt; yang dianutnya. Rasulullah saw menyebutkan seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, &lt;em&gt;“Umat ini masih akan tetap terjaga kebaikannya jika selalu jujur dalam ucapannya, adil dalam keputusan hukumnya dan saling berkasih sayang diantara mereka”. &lt;/em&gt;Allahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;dikutip dari : http://www.dakwatuna.com/2007/menunaikan-amanah-kepemimpinan/&lt;br /&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2062877523832248233?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2062877523832248233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2062877523832248233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2062877523832248233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2062877523832248233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/menunaikan-amanah-kepemimpinan.html' title='Menunaikan Amanah Kepemimpinan'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBgBHfPdN9I/AAAAAAAAAJc/doGF2bQY1oE/s72-c/a_h150.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-5103710793088802902</id><published>2008-04-30T12:03:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.127+07:00</updated><title type='text'>Kisah Teladan : Abdullah bin Zubair</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf_DvPdN8I/AAAAAAAAAJU/zDXo4Bw8NlY/s1600-h/jadilhum.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf_DvPdN8I/AAAAAAAAAJU/zDXo4Bw8NlY/s200/jadilhum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194901134881142722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Abdullah bin Zubair&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:11;" &gt; atau &lt;b&gt;Ibnu Zubair&lt;/b&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/624" title="624"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;624&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/692" title="692"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;692&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;) (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab" title="Bahasa Arab"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Arab&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:11;" &gt;عبد الله بن الزبير&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:11;" &gt;) adalah putera dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Zubair_bin_Awwam&amp;amp;action=edit" title="Zubair bin Awwam"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Zubair bin Awwam&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asma_binti_Abu_Bakar&amp;amp;action=edit" title="Asma binti Abu Bakar"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Asma binti Abu Bakar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dimana Zubair juga merupakan keponakan dari istri pertama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nabi_Islam" title="Nabi Islam"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad" title="Muhammad"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid" title="Khadijah binti Khuwailid"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Khadijah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Diriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar melahirkan Ibnu Zubair di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Quba&amp;amp;action=edit" title="Quba"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Quba&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pada saat perjalanan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hijrah" title="Hijrah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;hijrah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah" title="Madinah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Madinah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bukhari" title="Bukhari"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Bukhari&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad" title="Muhammad"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Biografi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Ibnu Zubair merupakan anggota dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bani_Asad&amp;amp;action=edit" title="Bani Asad"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Bani Asad&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Sebagai orang muda, Abdullah berpartisipasi secara aktif dalam berbagai kampanye peperangan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, seperti &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Badar" title="Pertempuran Badar"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Pertempuran Badar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Uhud" title="Pertempuran Uhud"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Pertempuran Uhud&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, malah di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Uhud" title="Pertempuran Uhud"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Uhud&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dia termasuk salah seorang yang melindungi Muhammad pada saat kekalahan pihak muslim, dimana &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Nabi" title="Sahabat Nabi"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;sahabat-sahabat&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang lain melarikan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kemudian pada masa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khulafaur_Rasyidin" title="Khulafaur Rasyidin"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Khulafaur Rasyidin&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;ia&lt;/span&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt; mengikuti pula berbagai kampanye pertempuran baik melawan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Byzantium" title="Byzantium"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Kekaisaran Byzantium&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; maupun melawan Kekaisaran Sassaniyah. Dia juga bersama dengan ayahnya, Zubair bin Awwam dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah" title="Aisyah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Aisyah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; bertempur melawan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib" title="Ali bin Abi Thalib"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertempuran_Unta&amp;amp;action=edit" title="Pertempuran Unta"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Pertempuran Unta&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Revolusi_Ibnu_Zubair"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Revolusi Ibnu Zubair&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Ali_bin_Abi_Thalib"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Pada umur 36 tahun, masa khalifah ke-4, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib" title="Ali bin Abi Thalib"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ali bin Abi Thalib&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Ibnu Zubair bersama dengan adik ibunya, Aisyah binti Abu Bakar, ayahnya Zubair bin Awwam serta sepupu ibunya Thalhah bin Ubaidillah mereka memberontak dan terjadilah Pertempuran Unta atau Jamal di daerah Basrah. Peperangan ini mengakibatkan hampir 20.000 orang muslimin meninggal, termasuknya ayahnya sendiri, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubadillah.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Zubair#_note-Hashem" title=""&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Yazid"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Yazid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Ibnu Zubair tidak aktif dalam politik selama masa kekuasaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muawiyah_bin_Abu_Sufyan" title="Muawiyah bin Abu Sufyan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Muawiyah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tetapi pada masa &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yazid_bin_Muawiyah" title="Yazid bin Muawiyah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Yazid I&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ia menolak untuk berbaiat terhadap khalifah yang baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Setelah kematian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Husain_bin_Ali" title="Husain bin Ali"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Husain bin Ali&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pertempuran_Karbala&amp;amp;action=edit" title="Pertempuran Karbala"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Pertempuran Karbala&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Ibnu Zubair kembali ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hejaz" title="Hejaz"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Hejaz&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dimana ia menyatakan dirinya sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khulafaur_Rasyidin" title="Khulafaur Rasyidin"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;khalifah yang sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dan dia mulai membentuk pasukan. Secepatnya ia mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan mengirim seorang gubernur ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kufah" title="Kufah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Kufah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Segera, Ibnu Zubair memantapkan keuasaannya di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iraq" title="Iraq"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Iraq&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, Selatan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arabia" title="Arabia"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Arabia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan bagian terbesar &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syria" title="Syria"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Syria&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, serta sebagian &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Mesir&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ibnu Zubair memperoleh keberuntungan yang besar karena ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Salah seorang pendukungnya adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muslim_bin_Shihab&amp;amp;action=edit" title="Muslim bin Shihab"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Muslim bin Shihab&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ayah dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ibnu_Shihab_al-Zuhri&amp;amp;action=edit" title="Ibnu Shihab al-Zuhri"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ibnu Shihab al-Zuhri&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang kemudian menjadi cendekiawan muslim terkenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Yazid mencoba untuk menghentikan pemberontakan Ibnu Zubair dengan menyerbu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mekkah" title="Mekkah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Mekkah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pada tahun 64 H, ia mengirim pasukan yang dipimpin oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Husain_bin_Numair&amp;amp;action=edit" title="Husain bin Numair"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Husain bin Numair&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pada saat pengepungan Mekkah, Husain menggunakan ketapel, dimana peluru ketapel ini pernah menghancurkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ka%27bah" title="Ka'bah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ka'bah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Tetapi karena mendengar kematian Yazid yang tiba-tiba, maka Husain bin Numair menghentikan pengepungan tersebut dan kembali ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Damaskus" title="Damaskus"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Damaskus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Maka Ibnu Zubair dapat terbebaskan dan ia membangun kembali Ka'bah yang berantakan karena serbuan pasukan Umayyah. Kematian Yazid yang tiba-tiba ini mengakibatkan pula makin berantakannya kekuasaan Bani Umayyah dan perang saudara antar Bani Umayyah.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Zubair#_note-Hashem" title=""&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Marwan"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Marwan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Hal ini mengakibatkan kekuasaan Islam terbagi menjadi dua bagian dengan dua khalifah yang berbeda, tetapi hal ini tidak bertahan lama. Perang saudara Umayyah dapat disudahi, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Mesir&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syria" title="Syria"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Syria&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; diambil alih oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marwan_bin_al-Hakam" title="Marwan bin al-Hakam"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Marwan I&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Pemberontakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khawarij" title="Khawarij"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Khawarij&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iraq" title="Iraq"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Iraq&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; terhadap Ibnu Zubair pun terjadi, hal ini mengakibatkan kekuasaan Ibnu Zubair hanya dapat bertahan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hejaz" title="Hejaz"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Hejaz&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Abdul-Malik"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul-Malik_bin_Marwan" title="Abdul-Malik bin Marwan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Abdul-Malik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Kekalahan terakhir Ibnu Zubair terjadi di ketika kekhalifahan Umayyah dipegang oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdul-Malik_bin_Marwan" title="Abdul-Malik bin Marwan"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Abdul-Malik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, dimana Abdul-Malik mengirim &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hajjaj_bin_Yusuf&amp;amp;action=edit" title="Hajjaj bin Yusuf"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Hajjaj bin Yusuf&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; untuk menggabungkan kekaisaran Islam. Hajjaj memerintahkan pengepungan terhadap &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mekkah" title="Mekkah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Mekkah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, pusat kekuasaan Ibnu Zubair saat itu, selama 8 bulan dan 17 hari dengan terus melemparkan bola api melalui &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketapel&amp;amp;action=edit" title="Ketapel"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;ketapel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang membakar tutup &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ka%27bah" title="Ka'bah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Ka'bah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan kayu-kayu penyangga, Ibnu Zyubair tertangkap dan dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf pada tanggal 17 Jumadil Awwal 73 &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hijriyah" title="Hijriyah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;H&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/4_Oktober" title="4 Oktober"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;4 Oktober&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/692" title="692"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;692&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Leher Ibnu Zubair dipenggal dan kepalanya dikirim sebagai hadiah kepada khalifah Abdul-Malik di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Damaskus" title="Damaskus"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Damaskus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan tubuhnya disalib. Hal ini mengembalikan kekuasaan Bani Umayyah terhadap seluruh daerah kekuasaan Islam.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Zubair#_note-Hashem" title=""&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Asma_binti_Abu_Bakar"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Asma binti Abu Bakar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Diriwayatkan bahwa &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: arial;" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asma_binti_Abu_Bakar&amp;amp;action=edit" title="Asma binti Abu Bakar"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Asma binti Abu Bakar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;, ibu dari Ibnu Zubair yang pada saat itu berumur 100 tahun menyaksikan pemenggalan dan penyaliban badan Ibnu Zubair, kemudian ibunya membawa mayat anaknya tersebut kembali seorang diri ke &lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: arial;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Madinah" title="Madinah"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;color:#000000;" &gt;Madinah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; dan dikuburkan di sana.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-5103710793088802902?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/5103710793088802902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=5103710793088802902' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5103710793088802902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5103710793088802902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/kisah-teladan-abdullah-bin-zubair.html' title='Kisah Teladan : Abdullah bin Zubair'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf_DvPdN8I/AAAAAAAAAJU/zDXo4Bw8NlY/s72-c/jadilhum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-5318721112466652851</id><published>2008-04-30T11:54:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.305+07:00</updated><title type='text'>Konsep Kebahagiaan dalam Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf9DfPdN7I/AAAAAAAAAJM/vPqCSqXK_lU/s1600-h/S3020047.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf9DfPdN7I/AAAAAAAAAJM/vPqCSqXK_lU/s320/S3020047.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194898931562919858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ustadz Abdul Latief&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah. yang&lt;br /&gt;senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup&lt;br /&gt;tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar&lt;br /&gt;kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka&lt;br /&gt;bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan.&lt;br /&gt;Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik&lt;br /&gt;dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan&lt;br /&gt;sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia&lt;br /&gt;terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada&lt;br /&gt;harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada&lt;br /&gt;kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah yang disebut"bahagia' (sa'adah/happiness) ?&lt;br /&gt;Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang&lt;br /&gt;kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan&lt;br /&gt;bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia&lt;br /&gt;sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka&lt;br /&gt;hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada&lt;br /&gt;kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya&lt;br /&gt;sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi&lt;br /&gt;kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan&lt;br /&gt;mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam&lt;br /&gt;suatu keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan&lt;br /&gt;merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri&lt;br /&gt;hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan&lt;br /&gt;yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.&lt;br /&gt;Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan&lt;br /&gt;hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu — yakni: keyakinan&lt;br /&gt;akan Hak Ta'ala — dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri&lt;br /&gt;berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.'&lt;br /&gt;Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan&lt;br /&gt;(iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209531111_1"&gt;itu&lt;/span&gt;. Bilal bin Rabah&lt;br /&gt;merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi&lt;br /&gt;disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke&lt;br /&gt;penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi&lt;br /&gt;hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya&lt;br /&gt;demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan&lt;br /&gt;menjalankan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan&lt;br /&gt;hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah&lt;br /&gt;lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?&lt;br /&gt;Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia&lt;br /&gt;berhasil mencapai ma'rifatullah" , telah mengenal Allah SWT.&lt;br /&gt;Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:&lt;br /&gt;"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat,&lt;br /&gt;kesenangan dan kelezatannya mara rasa &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209531111_2"&gt;itu&lt;/span&gt; ialah menurut perasaan&lt;br /&gt;masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah,&lt;br /&gt;kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala&lt;br /&gt;anggota yang lain dan tubuh manusia.&lt;br /&gt;Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati&lt;br /&gt;dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan&lt;br /&gt;sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat&lt;br /&gt;tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia&lt;br /&gt;dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.&lt;br /&gt;Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala&lt;br /&gt;macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh&lt;br /&gt;manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan&lt;br /&gt;oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah.&lt;br /&gt;Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan&lt;br /&gt;manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha&lt;br /&gt;illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi,&lt;br /&gt;manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya,&lt;br /&gt;baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.&lt;br /&gt;Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia&lt;br /&gt;memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk&lt;br /&gt;memikirkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat&lt;br /&gt;qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu&lt;br /&gt;Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan,&lt;br /&gt;bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa&lt;br /&gt;"Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din&lt;br /&gt;dalam pandangan Allah SWT adalah Islam."&lt;br /&gt;Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan&lt;br /&gt;kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan&lt;br /&gt;Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada&lt;br /&gt;tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati&lt;br /&gt;adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu&lt;br /&gt;program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan&lt;br /&gt;pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang hayaran&lt;br /&gt;sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan&lt;br /&gt;sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan&lt;br /&gt;manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah&lt;br /&gt;kepada Penciptanya.&lt;br /&gt;Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia&lt;br /&gt;dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing&lt;br /&gt;oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia&lt;br /&gt;mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan&lt;br /&gt;hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui&lt;br /&gt;utusan-Nya.&lt;br /&gt;Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran&lt;br /&gt;yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus&lt;br /&gt;keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta&lt;br /&gt;yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal,&lt;br /&gt;seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair&lt;br /&gt;besar &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209531111_3"&gt;Pakistan&lt;/span&gt; ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri&lt;br /&gt;seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.&lt;br /&gt;Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn&lt;br /&gt;itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha,&lt;br /&gt;menerima keputusan-keputusan -Nva, serta ikhlas menjalankan&lt;br /&gt;aturan-aturan- Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam&lt;br /&gt;menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia&lt;br /&gt;bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia&lt;br /&gt;menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.&lt;br /&gt;Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.&lt;br /&gt;"Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu&lt;br /&gt;terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.&lt;br /&gt;"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau&lt;br /&gt;telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang&lt;br /&gt;sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada&lt;br /&gt;orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu. .."&lt;br /&gt;"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah&lt;br /&gt;hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak&lt;br /&gt;mencacimu... "&lt;br /&gt;Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada&lt;br /&gt;sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-5318721112466652851?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/5318721112466652851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=5318721112466652851' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5318721112466652851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5318721112466652851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/konsep-kebahagiaan-dalam-islam.html' title='Konsep Kebahagiaan dalam Islam'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBf9DfPdN7I/AAAAAAAAAJM/vPqCSqXK_lU/s72-c/S3020047.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7563573961793454358</id><published>2008-04-29T16:46:00.004+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.479+07:00</updated><title type='text'>FITRAH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;Oleh : Husnul Amal Mas’ud&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbvGPPdN6I/AAAAAAAAAJE/B_94YZrCnfI/s1600-h/_bismi4jji.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbvGPPdN6I/AAAAAAAAAJE/B_94YZrCnfI/s320/_bismi4jji.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194602110668060578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, 10 hari sudah Ramadan berlalu. Bulan tempat menempa diri, menguji kesungguhan untuk menggapai surga dengan segala kemudahan dan keistimewaan di dalamnya. Mudah karena sepanjang Ramadan, pintu-pintu surga dan rahmat dibuka oleh Allah seluas-luasnya, sehingga terasa ringan badan dan jiwa menjalankan segala macam ibadah. Istimewa karena begitu besar perhatian Allah terhadap segala amalan hambanya di bulan tersebut; amalan yang sunah diberikan pahala seperti amalan wajib, dan amalan yang wajib dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Pintu-pintu ampunan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, bahkan setan pun dibelenggu untuk mengurangi potensinya menyesatkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Syawal ini manusia telah kembali berada pada fitrahnya, asal kejadiannya yang masih suci dan murni. Bulan fitrah yang selalu di awali dengan perayaan Idul Fitri setelah menjalankan ritual puasa dan amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah selama Ramadan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb membagi fitrah kepada dua macam: Pertama, fitrah manusia, yaitu bahwa potensi dasar yang ada pada manusia adalah untuk menuhankan Allah dan selalu condong kepada kebenaran. Kedua, fitrah agama, yaitu wahyu Allah yang disampaikan lewat para rasulnya untuk menguatkan dan menjaga fitrah manusia itu. Kedua macam fitrah ini adalah diciptakan dan bersumber dari Allah SWT. Oleh karenanya, antara fitrah manusia dan fitrah agama tidaklah akan pernah terjadi pertentangan karena keduanya mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia kembali dan dekat kepada sang penciptanya, Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;“(dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-A’raf : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dialog Allah SWT dan Adam AS pada ayat tersebut. Allah SWT berbicara kepada Adam dengan menggunakan perkataan “pohon ini” yang mengisyaratkan kepada kedekatan jarak antara Adam dan Rabbnya. Itulah nuansa kedekatan yang dihadirkan ketika Adam dan Hawa patuh kepada ketetapan Tuhan, ketika Adam dan Hawa masih dalam fitrah asal kejadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perhatikan bagaimana Allah menegur Adam AS dan Hawa ketika keduanya terlanjur terbujuk rayuan setan untuk menjamah pohon larangan : “Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS. Al-A’raf : 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketika Adam memilih menyalahi fitrah, tidak patuh (maksiat) terhadap perintah Allah, terciptalah jarak yang menyebabkan Adam jauh dari Rabbnnya sehingga Allah memilih kata “pohon itu” pada dialog ayat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat fitrah manusia. Apabila mereka taat dan patuh pada perintah Allah, mereka akan selalu dekat dengan-Nya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Apabila ia dekat dengan Tuhannya, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ia akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Allah. Seumpama seorang bintang film yang sedang berada di depan kamera, segala gaya dan mimiknya akan direkam dan hasilnya akan dipertontonkan nanti. Oleh karenanya si bintang film akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan perannya, berakting dengan penuh penghayatan dan berupaya untuk tidak menyalahi skenario yang telah digariskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbullah sifat Ihsan dalam dirinya; serasa ia berada dalam perhatian Allah, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan. Karena ia sadar bahwa setiap perilakunya sedang direkam dan bakal dipertontonkan di Mahkamah Mahsyar nanti. Inilah kesan dekatnya hamba kepada Tuhannya ketika telah kembali kepada fitrahnya setelah menjalani penempaan selama Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, ketika Allah menjelaskan tentang perintah, hakikat, tujuan dan syariat-syariat yang berkaitan dengan puasa Ramadan, di tengah ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan betapa dekatnya Dia dengan hamba-hambaNya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hakikat dan tujuan puasa Ramadan yang telah kita lalui kemarin. Ramadan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah asal kejadian mereka, yaitu dekat dengan Allah SWT. Dengan suasana kedekatan ini, manusia selalu akan merasa sadar akan keberadaan Rabbnya. Dan ini pula yang dimaksudkan juga dengan taqwa yang menjadi tujuan inti ibadah puasa. Sebuah kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perilaku dan gerak geriknya karena tempaan Ramadan telah membangkitkan kembali hakikat fitrahnya, yaitu bahwa ia dekat dengan Rabbnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada bulan Syawal ini di mana puasa Ramadan baru saja beberapa hari berlalu, renungkanlah di mana posisi kita telah berada saat ini? Apakah kita sudah semakin dekat kepada Allah, ataukah keadaan kita tidak jauh berbeda ketika sebelum memasuki madrasah puasa Ramadan? Adakah kesan Ramadan dan segala ritual ibadah yang telah kita lakukan dalam Ramadan masih membekas dalam diri pada bulan Syawal ini ataukah nuansa Ramadan malah telah berbalik seratus delapan puluh derajat? Adakah Ramadan tetap membekasi kita di bulan syawal ini, bulan “idul fitri”, ketika kita kembali kepada fitrah, untuk kemudian senantiasa berbuat dan bersikap penuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita karena jarak kita telah kembali begitu dekat dengan-Nya ataukah sebaliknya kita kembali kepada rutinitas kehidupan yang semakin menjauhkan kita dari-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita merasa termasuk kelompok yang pertama, maka kita adalah orang yang sebenar-benarnya telah “aidin wal faizin” pada bulan syawal ini, yaitu golongan yang telah kembali kepada Allah, kembali kepada fitrah kesucian, berada dekat kepada Rabbnya. Dan kita lah orang yang sebenar-benarnya telah mencapai kemenangan di dunia dan akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7563573961793454358?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7563573961793454358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7563573961793454358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7563573961793454358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7563573961793454358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/fitrah.html' title='FITRAH'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbvGPPdN6I/AAAAAAAAAJE/B_94YZrCnfI/s72-c/_bismi4jji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-9142821848008775598</id><published>2008-04-29T16:31:00.002+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.667+07:00</updated><title type='text'>Mengenang KH. Rahmat Abdullah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbtg_PdN5I/AAAAAAAAAI8/wraUrZ13ZVY/s1600-h/RahmatAbdullah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbtg_PdN5I/AAAAAAAAAI8/wraUrZ13ZVY/s320/RahmatAbdullah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194600371206305682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhlaq - Shalawat Atas Nabi SAW&lt;br /&gt;Oleh KH. Rahmat Abdullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta'dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkanoleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk -- lebih dari satu dua kali -- berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash- Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya "si Benar". Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: "Labbaik". Dialah yang terbaik denganprestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai "orang rumah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. "Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku." "Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina," demikian pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur'an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari datanglah ke   asjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tiba tiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: "Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya." Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, "Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah. Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki- laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma'af orang. Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya. Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: "Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini." Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului meeka, tagak di atas kuda tanpa pelana. "Tenang, hanya angin gurun," hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : "Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum." Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,"Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum'ah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan. Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: "Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do'a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti." Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menolak, "Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da'wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun." Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan- Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu "vulgar" perintah tersebut, "Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumma shalli 'alaihi wa'ala aalih !&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-9142821848008775598?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/9142821848008775598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=9142821848008775598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/9142821848008775598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/9142821848008775598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/mengenang-kh-rahmat-abdullah.html' title='Mengenang KH. Rahmat Abdullah'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SBbtg_PdN5I/AAAAAAAAAI8/wraUrZ13ZVY/s72-c/RahmatAbdullah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7275779912728459393</id><published>2008-04-18T13:33:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.843+07:00</updated><title type='text'>Hati-hati !! Kekuasaan Itu Memabukkan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SAhMN9frcbI/AAAAAAAAAI0/qohIsATmi3A/s1600-h/Imam+Orang+Bertaqwa.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190482373273940402" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 309px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" height="207" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SAhMN9frcbI/AAAAAAAAAI0/qohIsATmi3A/s320/Imam+Orang+Bertaqwa.bmp" width="278" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon : 34)&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS.As-Sajdah 32:24)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam pekan ini, kita melihat sebuah fenomena yang membuat terharu, yaitu dengan kemenangan calon gubernur yang diusung partai dakwah di Indonesia. Kemenangan yang tidak diprediksi sebelumnya oleh para pengamat dan lembaga survei di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupun kemenangan itu belum disahkan oleh lembaga yang sah bernama KPUD, tetapi saat memimpin itu tinggal selangkah lagi. Saat pengumuman disajikan, saat kepemimpinan telah disahkan , maka saat itu pula sebuah ujian kepemimpinan dimulai.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kepemimpinan adalah sebuah amanah yang harus dijalankan penuh dengan tanggung jawab. Saatnya menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk menegakkan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada saat masyarakat terhimpit beban ekonomi, dengan ditunjukkan munculnya busung lapar, bunuh diri karena tidak sanggup menahan beban hidup, kriminalitas yang meningkat karena minimnya lapangan kerja, adalah hal yang wajar masyarakat memilih figur baru yang mampu membawa kepada kesejahteraan. bersambung yaa....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7275779912728459393?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7275779912728459393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7275779912728459393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7275779912728459393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7275779912728459393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/04/hati-hati-kekuasaan-itu-memabukkan.html' title='Hati-hati !! Kekuasaan Itu Memabukkan'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SAhMN9frcbI/AAAAAAAAAI0/qohIsATmi3A/s72-c/Imam+Orang+Bertaqwa.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-8786396755553596636</id><published>2008-03-19T13:13:00.001+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:35.855+07:00</updated><title type='text'>Majulah Bersama Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s1600-h/pic1%28119%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s320/pic1%28119%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171939771133149666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEIRING berjalannya waktu, kegetiran hidup semakin menerpa sebagian besar kaum muslimin. Saudara-saudara kita di Palestina yang tengah berjuang untuk mendapatkan hak merdeka semakin terjepit karena minimnya dukungan berupa aksi nyata dari saudaranya di perbatasan negeri jirannya. Saudara-saudara kita di sebagaian besar benua asia dan afrika dibelit kemiskinan sistemik ditambah catut marutnya perekonomian yang saling menggilas antara si kaya dan si miskin. Belum lagi, minoritas kaum kita di negara barat yang dihantui ketakutan yang tidak berdasar oleh mayoritas penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt telah mengajarkan perumpamaan yang demikian dalam dan luas akan ilmu lebah. Betapa lebah telah dengan taat kepada Allah untuk senantiasa memberikan kemaslahatan bagi manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan tentang lebah madu, Harun Yahya menyatakan bahwa permasalahan dalam jejaring internet dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dapat dijadikan sebuah pemikiran besar manakala segenap potensi umat dimanfaatkan secara maksimal akan mendatangkan kemengan bagi umat dan tercerabutnya akar masalah keumatan satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala masing masing individu dari kaum muslimin mengenal akan potensi dirinya, maka kumpulan potensi yang beraneka ragam itu dapat membuat sebuah bangunan besar kaum muslimin. Yang didalamnya penuh cinta dan asa. Penuh kedamaian dalam taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan kerja besar kaum muslimin harus segera dibangkitkan. Tiap individu muslim, bersegera berkarya bagi kemajuan pribadi dan kemaslahatan kaum muslimin. Mari bekerja, apapun keterampilan yang kita miliki merupakan sumbangsih besar bagi kejayaan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa sedih tanpa sebuah ikhtiar dan karya. Jangan pernah merasa kecil ketika orang diluar kita besar dengan segala kesombongannya.Bersama menanggulangi masalah ini, akan berujung pada kemudahan mengurai benang kusut bernama kemiskinan, pelecehan dan fitnah yang tiada henti menimpa kaum muslimin. SEMOGA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-8786396755553596636?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/8786396755553596636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=8786396755553596636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/8786396755553596636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/8786396755553596636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/majulah-bersama-islam.html' title='Majulah Bersama Islam'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s72-c/pic1%28119%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-4741191999198189119</id><published>2008-03-19T02:00:00.000+07:00</published><updated>2008-03-18T13:37:54.513+07:00</updated><title type='text'>Saat Dini Hari Ini</title><content type='html'>Malam ini, kurasakan betapa sangat kerdilnya diri ini dihadapan Sang Kholik. Berbagai aktifitas seharian yang begitu mendera indera telah menunjukkan ketidakberdayaan kita atas ganasnya waktu. Pagi itu, niat untuk melaksanakan ibadah shoum begitu kuat, setelah semalam aku tutup dengan qiyamulail dan witir. Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah. Niat itu masih tetap kokoh sampai matahari tinggi menyapa dari balik jendela kantor di lantai 2. Dhuha dan lantunan ayat al-Qur'an telah kutunaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat yang semula kuat itu, tiba-tiba sirna ketika ajakan seorang kawan untuk menemaninya makan di sebuah 'medan deli'. Aku bergumam, sesekali kubatalkan ritual sunah ini untuk memenuhi ajakan kawan. Rizki atau pahala yang tertunda, aku menangkap sinyal sebagai kedua-duanya. Rasa lapar menahan shoum itu telah lewat, sudah. Kurasakan kini, betama kekososongan hati mulai menyapa pada saat perut telah terisi. Keengganan untuk segera menyapa Sang Kholik. Berlama-lama di depan tumpukan lembaran meja kerja, telah menjadikan bagian lain yang mengurangi rasa nikmatnya sebuah iman di pagi sebelumnya, saat menahan lapar dan haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan itu, begitu nyata lagi. Sore itu pekerjaan harus segera dituntaskan. Degh! Pasti pulang malam, pikirku. Padahal janji sudah menunggu untuk sebuah liqo pekanan , untuk sebuah silaturahim dengan para kader dakwah menjumput nilai sebuah asa untuk kemajuan umat. Nyata sudah. Kulalui waktu yang sudah seharusnya kusediakan untuk bertemu dengan para ikhwah, di perjalanan kereta. Kegalauan ku belum sirna ketika kudapati anak-istri meminta tolong untuk beberapa urusan yang belum dimengerti dan diselesaikan hari itu. Kutuntun untuk mengurai benang kusut itu. Lapang sudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah. Kuawali langkah kaki ini tepat pukul jam 10 malam. Alhamdulillah agenda malam ini dapat diselesaikan dengan jernih dengan beberapa evaluasi dan rencana kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan kembali menggelayut dalam diri ini, ketika dirasa mata ini, rasa ini masih begitu jauh atau bahkan berpaling dari Nikmat Allah. Duh Gusti, Robbul Izzati. Ampuni kami. Malam ini sedang apa saudara-saudaraku. sudah makankah mereka, sudahkah mereka berdzikir memenuhi hakMu. Astaghfirullah al-Adzim. Kealpaan kurasa betapa ketika kita tidak memulai untuk bersegera berbuat baik, maka peluang bermaksiat akan datang menawarkan aromanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allhumma innaka ta'lamu anna hadzihil quluubi qodijtamaat ala mahabatik...&lt;br /&gt;Amantu billahi wa rusulih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-4741191999198189119?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/4741191999198189119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=4741191999198189119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/4741191999198189119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/4741191999198189119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/saat-dini-hari-ini.html' title='Saat Dini Hari Ini'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-6170627102288751726</id><published>2008-03-14T11:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.005+07:00</updated><title type='text'>Kesatuan dan Keragaman Jamaah Dalam Medan Amal Islami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R9oDRK3-alI/AAAAAAAAAHM/OW4uW16U1xo/s1600-h/2Mt_Buller_1600.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R9oDRK3-alI/AAAAAAAAAHM/OW4uW16U1xo/s200/2Mt_Buller_1600.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177454315127597650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/h4&gt;  &lt;small&gt;Al-Ikhwan.net | 28 May 2007 | 13 Jumadil Awal 1428 H | Hits: 3,895&lt;br /&gt;&lt;span class="postedby"&gt; Dr. Muhammad Abul Fath Al Bayanuni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.al-ikhwan.net/index.php/fiqh-shahwah/2007/kesatuan-dan-keragaman-jamaah-dalam-medan-amal-islami/print/" title="Print" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/small&gt;  &lt;p&gt;Satu hal yang tidak diragukan lagi bahwa kesatuan amal Islami merupakan sebuah harapan besar hari ini, inilah impian yang selalu dirindukan oleh jiwa-jiwa mukmin pada setiap tempat, terlebih pada wilayah-wilayah yang sedang diterpa musibah dan bencana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keprihatinan yang bercampur rasa bingung semakin bertambah, di saat kita melihat sebuah realita keragaman amal Islami yang sedang berjalan di lapangan, dengan keragaman sikap dan bentuk reaksi yang ditampilkan yang terkadang muncul dari sikap reaktif dan fanatis, keyataan ini semakin melemahkan sebagian kaum muslimin dalam merealisasikan harapan besar ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal inilah yang menjadi sebab utama kami untuk mencermati serta menuangkan dalam tulisan ini, sebab – menurut hemat kami - belum ada tulisan membahas permasalahan ini secara cukup detail. Hal lain yang mendorong kami memilih pembahasan ini adalah kebutuhan yang mendesak untuk meletakkan dasar-dasar teoritis dan aplikatif demi terealisasinya harapan besar ini. Banyak di antara mereka yang menyakini keharusan bersatunya Amal Islami harus terhenti pada tataran teori dan sangat sulit diterapkan dalam tataran implementasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantara mereka - yang tidak memahami secara integral hakekat keragaman jamaah-jamaah Islam - memberikan sikap-sikap reaktif yang semakin memperburuk situasi dan kondisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak di antara para pemuda Islam memandang bahwa keragaman jamaah-jamaah Islam yang sedang bejalan dalam medan amal Islami adalah sebuah hambatan terbesar dalam merealisasikan harapan dan impian ini, sebab mungkinkah akan muncul kesatuan amal Islami di tengah realitas keragaman organisasi dan jamaah-jamaah yang ada saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketidakpercayaan ini semakin bertambah, disaat melihat realitas yang sedang terjadi di lapangan, berbagai perselisihan, perpecahan, recaman serta fanatisme golongan dan kelompok yang menyelimuti semua sisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketidakpercayaan dan rasa bingung yang sedang menimpa sebagian pemuda Islam ini persis yang di alami kalangan pemuda Islam di masa lalu yang memahami dengan keliru realitas keragaman mazhab-mazhab dalam fikih Islam serta madrasah-madrasah ilmu yang berkembang dalam kehidupan ummat Islam sepanjang sejarah. Seraya mereka berkata: bagaimana mungkin muncul mazhab-mazhab fikih dan beragam pendapat dalam sebuah masalah syariah yang satu sedang agama kita adalah satu, Alquran kita satu dan sunnah Nabi kita juga satu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ini juga diperparah, dengan kondisi fanatisme buta yang muncul dari para pengikut mazhab serta sikap ekstrim lagi melampui batas dari para pengikut di luar mazhab mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya, kerancuan dan kesalahpahaman ini senantiasa berlangsung dan menyita pikiran sebagian kaum muslimin, yang berdampak pada sikap-sikap mereka di hadapan realitas mazhab-mazhab fikih dan para pendirinya, hingga Allah mengirim pada Ahli Ilmu pada setiap masa, baik di masa lalu maupun di masa kini, mereka yang menjelaskan hakekat keragaman dan perbedaan ilmiyah ini, menjelaskan sebab-sebabnya serta menghilangkan kerancuan dan kesalah pahaman yang ada. Dan lingkup ini adalah masalah keragaman medan-medan amal dan jamaah Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apabila keragaman pendapat ilmiyah dalam masalah yang satu dalam lingkup agama yang satu adalah sebuah perkara biasa dan dibenarkan oleh syariat karena sebab-sebab yang telah diketahui [1], maka keragaman jamaah Islam dalam Medan Amal Islami adalah sebuah perkara biasa dan syar’i juga. Terlebih dalam situasi dan kondisi zaman seperti kita saat ini, sebagaimana yang akan kami paparkan pada pembukaan dalam tulisan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga melalui tulisan ini, saya dapat meletakkan sebagian dasar-dasar teoritis dan aplikatif terkait dengan pembahasan ini, hingga dapat mengungkap hakekat keragaman jamaah-jamaah Islam, sebab, berikut dampak positif dan negatif yang ditimbulkan serta meletakkan beberapa pilar-pilar asasi menuju kesatuan amal dalam Medan Islam, inilah sebuah harapan yang senantiasa tergantung dan hanyalah lepada Allah tempat memohon dan menyerahkan segala urusan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan kami telah membuat dalam tulisan ini pembukaan, pokok bahasan dan kalimat penutup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEMBUKAAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;HAKEKAT KERAGAMAN JAMAAH ISLAM, SEBAB DAN PERKEMBANGANNYA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita renungkan dengan mendalam sebab munculnya keragaman jamaah-jamaah Islam adalah kembali pada perbedaan manhaj-manhaj para du’at dan metode pendekatan mereka dalam medan amal Islam setelah mereka mengerahkan segenap kemampuan dalam meletakan manhaj yang sesuai dan mengambil metode dalam dakwah mereka yang akan menyampaikan kepada tujuan secara lebih efektif, tentunya dalam koridor nash-nash syar’i dan kemaslahatan yang melingkupinya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keragaman ijtihad mereka dalam kesatuan agama, Alquran dan sunnah seperti keragamaan manhaj para nabi – semoga shalawat selalu tercurah lepada mereka - dan syariatnya dalam lingkup kesatuan agama, ditinjau dari satu sisi [2].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena sesungguhnya agama para Nabi – alaihimus shalatu wassalam - seluruhnya adalah satu, sebagaimana kekufuran hakekatnya adalah satu, sebagaimana firman Allah swt menjelaskan kesatuan agama para nabi:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am: 161)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Dan dalam firman-Nya yang lain:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (QS. 16:123)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana Allah menjelaskan tentang kesatuan agama kekufuran:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Dan  dalam firmanNya yang lain:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (QS. 12: 37-38)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Manhaj para nabi - alaihimus shalatu wassalam - dan syariat mereka adalah beragam, sebagaimana Allah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (QS. Al Maidah: 48)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Allah juga berfirman:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. 45:18)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Perbedaan antara keragaman manhaj para nabi - alaihis shalatu wassalam - dalam kesatuan agama, dan keragaman manhaj dakwah dalam kesatuan agama dan risalah adalah bahwa manhaj para nabi adalah wahyu yang diturunkan dan terjaga dari kesalahan, sedang manhaj-manhaj para du’at dan ulama adalah ijtihad manusia dalam bingkai wahyu yang mungkin salah dan mungkin benar, menerima diskusi dan kritikan, namun mereka dalam ijtihad mereka tidak akan kehilangan pahala insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;IBNU TAIMIYAH DAN PERBEDAAN ULAMA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penyerupaan ini sebenarnya telah disampaikan sebelumnya oleh Imam Ibnu Timiyah – semoga Allah merahmatinya -, setelah berbicara tentang kesatuan agama, keragaman syariat dan manhaj para nabi – alaihimus Shalatu wassalam - kemudian mengungkapkan:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Mazhab-mazhab, jalan-jalan (yang ditempuh oleh ulama-pent), dan strategi yang dipilih oleh para ulama, para masyasyikh dan para pemimpin, apabila mereka berkehendak mencari keridhaan Allah dan bukan hawa nafsu, agar mereka berpegang kepada millah dan agama yang tersimpul dalam rangka mengabdikan kepada Allah semata dan tidak mensyirikannya, mengikuti apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka dalam Kitab dan sunnah, dari satu sisi seperti kedudukan syariat dan manhaj para nabi, mereka akan dibalas karena tujuan mereka mencari keridhaan Allah dan beribadah kepadaNya semata, serta tidak mempersekutukanNya dan itulah agama yang sempurna, sebagaimana para nabi dibalas atas pengabdian mereka kepada Allah semata dan tidak mensyirikkanya, dan akan dibalas (para ulama dan masyayikh) atas ketaatan kepada Allah dan RasulNya dalam apa yang mereka pegang teguh, sebagaimana setiap nabi dibalas atas ketaatan mereka kepada Allah dalam syariat dan manhajnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keragaman syariat dan manhaj mereka karena disebabkan seperti: Sebuah redaksi hadits sampai kepada mereka tidak sebagaimana redaksi yang sampai kepada yang lain, sebagian ayat ditafsirkan dengan tafsiran yang berbeda dengan tafsiran yang lain, menggabungkan antar beberapa nash dan menggali hukum dengan pola tartib dan penggabungan tidak sebagaimana yang dilakukan oleh yang lain, demikian juga dalam ibadah dan kecenderungan, kadang yang satu berpegang pada ayat atau hadits dan yang ini berpegang pada ayat atau hadits yang lain. Demikian juga dalam ilmu, sebagian ulama ada yang mengikuti metodologi seorang alim tertentu, maka jadilah syariat yang ia anut hingga ia mendengar perkataan yang lainnya dan melihat (kebenaran) yang ia tempuhnya lalu mentarjih (menguatkan) pendapat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka beragamlah pendapat dan sikap mereka karena kecenderungan ini, mereka diperintahkan untuk menegakkan agama dan tidak berpecah belah, sebagaimana para rasul diperintahkan hal itu, mereka diperintahkan untuk tidak memecah belah ummat, sebab ia adalah ummat yang satu sebagaimana yang telah diperintahkan kepada para rasul, dan mereka jauh lebih kuat untuk merealisasikan hal ini, karena mereka disatukan oleh syariat yang satu dan kitab yang satu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun dalam masalah yang mereka perselisihkan, maka tidak dikatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan setiap mereka – baik secara lahir maupun batin - untuk berpegang terhadap apa yang yakini, sebagaimana yang tetap pada para nabi”, betapapun perkataan ini telah diungkapkan oleh ahlul kalam (filsafat), akan tetapi seharusnya yang dikatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan setiap mereka untuk mencari kebenaran menurut kadar kemampuan dan kekuatannya, maka apabila benar dan jikalau tidak maka Allah tidak akan membebani diri diatas kemampuannya, dan sungguh kaum mukminin telah berdo’a: ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau salah’.” Dan Allah telah berfirman: “Sungguh Aku telah lakukan itu”. Dan Allah telah berfirman pula: “Dan tidak ada dosa atas kalian dalam apa yang kalian berbuat salah”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka barang siapa yang menghina dan mencela atas apa yang Allah tidak akan menyiksa mereka, maka sungguh ia telah melampui batas, dan barang siapa menghendaki menjadikan perkataan dan perbuatan mereka seperti kedudukan perkataan dan perbuatan Nabi Al Makshum (yang terjaga dari kesalahan), membelanya tanpa petunjuk dari Allah maka sungguh telah melampui batas dan mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan barang siapa melakukan sebagaimana yang diperintahkan menurut kondisinya, yakni dengan berijtihad yang ia mampu lakukan atau bertaqlid jika ia tidak mampu berjtihad, dan ia bertaqlid dalam posisi yang penuh keadilan maka ia adalah orang yang objektif, sebab perintahnya dibingkai dalam syarat kemampuan, (Allah tidak akan membebani seseorang diatas kemampuannya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka kewajiban atas setiap muslim pada setiap posisi adalah menghadapkan wajahnya hanya Kepada Allah semata, senantiasa menjaga keislamannya, menyerahkan wajahnya yakni mengikhlaskan dirinya hanya kepada Allah, memperbaiki perbuatanya yang baik, maka renungkanlah ini, karena ia adalah sebuah dasar yang sempurna yang bermanfaat lagi agung. [3]&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;SEBAB-SEBAB KERAGAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah kita mengetahui tentang hakekat keragaman manhaj dakwah, kita dapat menyimpulkan sebab-sebabnya dalam tiga sebab utama:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;u&gt;1. Tabiat nash-nash syar’i yang multipretatif, keragaman pandangan dan ijtihad manusia dalam memahami uslub dan metoda dakwah dalam amal Islami yang digali dari nash-nash syariat dan dari sirah Rasul SAW dan sirah Khulafaurrasyidin semoga Allah meridhai semua.&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita lebih dalam melihat tentang sebab ini, maka kita melihat bahwa keluasan sirah Nabi SAW dan sirah Khulafaur Rasyidin karena keragaman pandangan dan ijtihad, jauh lebih luas dari keluasan nash-nash yang bersumber dari hukum-hukum syariah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Disana kadang ditemukan sebuah kondisi yang sebagian melihatnya sebagai sebuah kebijakan Imam dan strategi politik, pada saat mana yang lain memandang sebagai sebuah tabligh dan Fatwa, yang lain memandang sebagai sebuah kebijakan Qadhi dan Mufti menurut pemahaman yang dicapai oleh seorang Alim dan mujtahid, sebagaimana kami telah jelaskannya pada tulisan kami yang bertema: “Al Ashalah Wal Mu’ashirah Khashshiyatani min Khashaishid Dakwah Islamiyah” (Orisinalitas dan kemoderenan adalah dua keistimewaan dari keistimewaan dakwah Islam).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena seperti sebab-sebab inilah, keragaman manhaj ilmiyah dikalangan ulama salaf kita muncul, ada diantara mereka yang berpegang kepada Atsar dan sedikit menggunakan akal, hingga menjadi dua madrasah besar yakni Madrasah Ahlul Hadits dan Madrasah Ahlur Ra’yi (logika), pada madrasah pertama seperti sahabat Abdullah ibnu Umar – semoga Allah meridhai keduanya - hingga kemudian muncul dalam kepribadian Imam Malik bin Anas – semoga Allah merahmatinya - yakni Imam Kota hijrah. Dan tokoh terkemuka pada madrasah lain – yakni madrasah Ahlul Ra’yi - sahabat sekaliber Umar bin Khattab dan Abdullah ibnu Mas’ud, yang kemudian tampil pada sosok Imam Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya - [4].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena hal-hal seperti inilah, terjadi keragaman sikap para salafus shaleh kita - semoga Allah merahmati mereka semua - dalam mengambil ketentuan fikih yang bersifat pasti maupun nisbi, di antara mereka ada yang mengambilnya dan bahkan sangat luas dalam membahasnya, namun ada juga yang menolaknya dan bersifat lebih hati-hati dan masing-masing memberikan dalil-dalil baik yang bersifat naqli maupun Aqli [5].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti ini juga, keragaman manhaj para ulama salaf kita dalam membuka peluang seluas-luasnya dan mempersempit peluang dalam mengambil pokok-pokok bahasan dan memanfaatkan hal-hal yang baik, di antara mereka ada yang memperluas dan sebagian yang lain mempersempit, dan masing-masing memberikan argumentasi terhadap manhajnya baik naqli maupun aqli [6].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan contoh-contoh yang lain yang selalu muncul keragaman manhaj kaum muslimin baik pada tempo dulu maupun kontemporer yang meliputi seluruh sisi kehidupan kaum muslimin baik yang umum maupun yang khusus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;u&gt;2. Diantara sebab yang melahirkan beragamnya manhaj dakwah kaum muslimin hari ini adalah hilangnya kesatuan politik di lapangan medan dakwah yang tercermin dalam khilafah Islam yang menjadi menjaga kepentingan ummat, mensinergikan beragam potensi dan menghilangkan perbedaan.&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dr. Yusuf Al Qardhawi menjelaskan tentang sebab ini saat kami dan beliau sedang diwawancarai olrh majalah Al Ishlah yang terbit di Dubai, salah satu kota di Emirat Arab, beliau ditanya pertanyaan berikut:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Ketika berbicara tentang Kebangkitan Islam, ada sebuah kenyataan yang sangat menarik perhatian yaitu masalah keragaman jamaah-jamaah Islam yang berada di lapangan dakwah, yang tidak dapat menghilangkan perbedaan tapi bahkan pertikaian yang memecah satu sama yang lain pada beberapa kondisi. Bagaimana persepsi yang benar yang seharusnya dimiliki oleh jamaah-jamaah ini untuk mensinergikan potensi demi kepentingan dan kemaslahatan kaum muslimin secara keseluruhan?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau menjawab,&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Apakah engkau menyakini bahwa realitas keragaman ini hanyalah sebuah realitas saja? Keragaman ini merupakan sebuah realitas yang pasti dan tidak terelakkan karena hilangkan penegakan kewajiban besar dari kewajiban-kewajiban Islam, apabila kita melihat pada masa generasi awal, masa kenabian, kemudian masa kekhalifahan Ar Rasyidah yang menyatukan ummat, maka kita tidak menemukan kecuali satu jamaah, dibawah kepemimpinan yang satu yakni jamaatul muslimin dibawah kepemimpinan Rasulullah saw kemudian kepemimpinan Khulafurrasyidin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amal Islami ini tetap berjalan dibawah naunan jamaah yang satu dan kepemimpinan yang satu hingga hilangnya kekhilafahan yang diangkat dengan sebuah bai’at syar’i dari kaum muslimin, maka terpanggillah para Alim dan para duat yang ikhlash untuk memperbaiki kondisi demi tertegaknya kembali Al Islam, dari sinilah awal munculnya jamaah-jamaah dan sangat beragam. Yakni bahwa keragaman jamaah-jamaah tidak akan muncul apabila kaum muslimin hidup dibawah naungan kekhalifahan yang diangkat dengan sebuah bai’at yang syar’i [7]. Adapun realitas hari ini, saat hilangnya kekhalifahan dari kehidupan kaum muslimin, maka seharusnyalah jamaah-jamaah mensinergikan potensinya dan hendaknya mereka memiliki kesepahaman dan saling tolong menolong diantara mereka. [8]”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;u&gt;3. Diantara sebab yang melahirkan munculnya keragaman ini adalah: Keinginan besar dari para pelaku dakwah di lapangan dalam mengumpulkan jumlah yang besar dari kaum muslimin dalam sebuah amal Islami demi menjaga eksistensi keberadaan kaum muslimin dari makar-makar musuh-musuhnya serta agar lebih memusatkan perhatian segenap potensi ummat untuk merealisasikan tujuan bersama.&lt;/u&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu hal yang tidak dapat dipungkiri, beragamnya kecenderungan dan tempat pengambilan sumber kaum muslimin serta aneka pendapat dan ijtihad di kalangan mereka tidak memungkinkan dapat diakomodir dan dikelola oleh sebuah tandzim (menejemen dakwah) yang satu atau kepemimpinan yang satu, terlebih saat hilangnya jamaah yang dapat diakui kesempurnaannya oleh semua kalangan, yang dapat menjadi pengayom ketika berada di bawah panji-panjinya, serta tidak lagi membutuhkan kelompok dan perkumpulan-perkumpulan yang lain dengan keberadaanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abul A’la Al Maududi seorang da’i Pakistan pernah menyampaikan sebab yang melahirkan munculnya organisasi yang beliau rintis sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;“Aku berusaha demikian pula para sahabatku yang memiliki keprihatian dan pemikiran yang sama denganku, kami berusaha dengan keras selama kurun tiga tahun menghimpun jamaah-jamaah yang ada saat itu bernaung di bawah bendera yang satu, atau program kerja yang satu yang akan merealisasikan tuntutan-tuntutan lapangan bagi hidupnya Islam yang hakiki, usaha ini bertujuan untuk mensinergikan beragam potensi yang tersebar dalam jamaah-jamaah yang ada, yang dengannya tidak ada lagi alasan dan kebutuhan lapangan untuk membentuk perkumpulan dan jamaah yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun sayang, usaha kami mengalami kegagalan, dan tidak ada pilihan di hadapan kami selain bertemunya jamaah-jamaah yang bergerak dalam medan amal saat itu dalam prinsip-prinsip dasar Islam yang shahih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah, pertemuan yang diadakan di bulan Sya’ban 1360 H atau yang bertepatan dengan bulan Agustus 1941 M, telah diselenggarakan pertemuan organisasi-organisasi, maka setelah diskusi dan perbincangan maka kami sepakat membuat organisasi yang bernama ‘Jamaah Islam’ [9].”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Dan seperti sebab berdirinya organisasi jamaah Islam ini, kita terkadang menemukan kemiripan pada berdirinya organisasi dan jamaah-jamaah Islam yang tersebar hari ini, yang semakin menguatkan kemestian keragamaman jamaah-jamaah dan kebutuhan kaum muslimin saat ini akan keberadaannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kaum muslimin pada waktu yang lalu telah dikaruniakan taufiq Allah SWT akan keberadaan para ulama dan du’at yang benar lagi jujur, yang dengan keikhlasan, jerih payah dan kesadaran mereka sanggup mendekatkan antara manhaj (metodologi dan pendekatan) Ahli Hadits dan Ahli Ra’yu (logika), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al Imam Syafi’i – Rahimahullah- dan yang lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka, semoga hari ini kita pun dikaruniakan taufiq Allah Swt para ulama yang ikhlas dan para du’at yang berupaya dengan segenap kekuatannya mempertemukan antar para pelaku di medan amal Islami serta mendekatkan jamaah-jamaah yang beragam, mereka menapaktilasi kembali perjuangan dan usaha yang telah dirintis para pendahulunya, telah memberikan andil menajamkan makna persatuan Islam, dan mendekatkan beragam persepsi dan pemahaman sedapat mungkin, sebab ummat hari ini sangat membutuhkan jamaah yang membawa misi ini dan berupaya dalam medan amalnya merealisasikan tujuan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siapapun yang membaca realita masa lalu yang pernah terjadi di antara dua kubu madrasah (metodologi dan pemikiran) yakni Ahli hadits dan ahli logika serta para pengikutnya akan menemukan permusuhan, perselisihan yang sengit dan bahkan saling melemparkan tuduhan dan kecaman, lalu mereka kembali dalam kedekatan pemahaman dan persepsi pada sebagian besar masalah, maka akan terasa ringan dan kecil apa yang kita hadapi hari-hari ini, serta rasa optimis yang besar akan terwujudnya kedekatan pemahaman pada jamaah-jamaah ini. Dalam kitab “Tartibul Madarik” Qadhi ’iyadh – rahimahullah - pernah berkata: “Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Kami tiada henti-hentinya mengecam Ahli Ra’yi (logika) dan merekapun mengecam kami, hingga datang Imam Syafi’i yang menjadi penengah diantara kami”.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Qadhi Iyadh berkata: “Yang dimaksud beliau, Imam Syafi’i berpegang pada Atsar-atsar yang shahih dan menggunakannya, kemudian membingkainya dengan logika jika diperlukan lalu menggali hukum-hukum syariat. Dan sesungguhnya ia hanyalah analogi terhadap pokok-pokoknya, dan Imam Syafi’i telah menunjukkan kepada mereka bagaimana mengambilnya serta berpijak terhadap illat-illat hukumnya. Maka Ahli hadits pun mengetahui bahwa Logika yang benar adalah cabang dari hukum asal, dan Ahli logikapun mengetahui bahwa tidak ada cabang tanpa pokok, dan sesungguhnya tiada guna sebuah logika jika harus mendahului sunnah dan atsar-atsar yang shahih [10].”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada penutup ini, saya ingin sekali menguatkan penegasan bahwa upaya untuk mempersatukan amal Islami dan mempertemukan satu kalimat dengan berbagai sarana yang memungkinkan adalah kewajiban syar’i bagi siapa saja yang mampu, sebab yang demikian itu akan mencegah perpecahan di kalangan umat Islam, mensinergikan beragam potensi serta lebih merealisasikan kesatuan barisan dihadapan musuh-musuh agama, sebab sudah cukup bencana dan musibah yang telah menimpa umat ini akibat perpecahan dan perselisihan mereka. Allah berfirman:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS.3:110)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. 5:2)&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;[]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Oleh: Dr. Muhammad Abul Fath Al Bayanuni &lt;/strong&gt;(Dosen Ma’had Al ‘Aly Fakultas Dakwah Madinah Al Munawwarah)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Penterjemah: Abu Zaki&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Catatan Kaki:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Penulis memiliki sebuah buku yang khusus mentelaah tema ini yang berjudul: “Dirasat fil Ikhtilaf Al Fiqhiyah” (Sebuah studi perbedaan dalam fikih) yang telah dicetak beberapa kali th. 1395 H, 1403 H dan 1405 H.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[2] Analogi ini saya kira tidak masalah, walaupun dari sisi lain ada sedikit perbedaan, seperti perbedaan waktu dan tempat pada syariat para nabi - alaihimus shalatu wassalam - dan kesatuan masa dan tempat pada manhaj para ulama dan dai. Dan sebenarnya cukup adanya kesamaan dalam keragaman syariat dalam kesatuan agama dan tujuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[3] Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah – rahimahullah - adalah sebuah dasar yang kokoh, bermanfaat lagi agung, yang menunjukkan kedalaman pandangannya, kejelian analisanya yang belum pernah kami temukan sebelumnya, kami telah beberapa tahun lamanya mengkaji topik ini agak sedikit ragu dengan analogi ini, ketika kami semakin mendalami dan menyelami perkataan ini maka kami semakin tenang dan yakin pendapat kami akan hakekat keragaman manhaj dalam dakwah dan mazhab-mazhab ilmiyah, karenanya kami paparkan penjelasan Ibnu Taimiyah – rahimahullah - secara utuh agar lebih bermanfaat sebab beliau telah menegaskan hakekat keragaman serta beberapa isyarat tentang sebab dan faktor-faktor kemunculannya berikut sikap yang seharusnya kita tampilkan, semoga Allah senantiasa membalasnya dengan segenap kebaikan. Majmu’ Fatawa (19/126-128)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[4] Lihat Kitab “Al Fikrul Sami Fi Tarikhi Fiqhil Islami” yang dikarang oleh Al Hijri yang kemudian di tahqiq oleh Abdul Aziz bin Abdul fatah al Qari, diterbitkan oleh Maktabah Ilmiyah Madinah Al Munawwarah (1/349-353) dan juga kitab “Dirasah Tarikhiyah Lil fiqh Wa Ushuluhu, Wal Ittijahat Allati Dhaharat fiha” karangan Dr. Musthafa Said Al Khasyi yang diterbitkan Syariah Muttahidah Lit Tauzi’ cet. 1 (76-80)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[5] Lihat penjelasannya lebih luas dalam “Al Fikrul Sami Fi Tarikhi Fiqhil Islami” yang dikarang oleh Al Hijri, (1/349-353).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[6] Lihat dalam kitab “Al Muwafaqat” karangan Asy Syathibi yang disyarahkan oleh Asy Syaikh Abdullah Darraz (1/117-123).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[7] Demikianlah pandangan Dr. Yusuf al Qardhawi, dalam hal ini saya memandang bahwa pandangan dalam masalah ini adalah sebuah kemaslahatan yang dilihat oleh seorang Imam. Saat itulah, apabila ia melihat sebuah kemaslahatan harus ditetapkan maka ia akan menetapkannya, dan apabila ia melihat sebuah kemaslahatan harus ditiadakan maka ia akan meniadakannya, dan apabila ia melihat sebuah kemaslahatan adalah dengan berpegang pada satu bentuk dari beberapa bentuk yang ada maka baginya pula, maka ia adalah sebuah rujukan, dan masalah ini hukumnya dapat menghilangkan perbedaan. Wallahu a’lam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[8] Lihat Majalah Ishlah no 77 bulan Syawal 1404 H&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[9] Lihat Kitab “Abul A’la Al Maududi, fikratun wa Dakwatuhu” karangan As’ad Jilani hal.43.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[10] Lihat kitab “Tartibul Madarik” (1/91) (3/181) lihat juga dalam mukaddimah A’la’us Sunan karangan At Tahawuni (1/230) &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-6170627102288751726?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/6170627102288751726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=6170627102288751726' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6170627102288751726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6170627102288751726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/al-ikhwannet-28-may-2007-13-jumadil.html' title='Kesatuan dan Keragaman Jamaah Dalam Medan Amal Islami'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R9oDRK3-alI/AAAAAAAAAHM/OW4uW16U1xo/s72-c/2Mt_Buller_1600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-6395288772386846755</id><published>2008-03-14T11:27:00.000+07:00</published><updated>2008-03-14T11:29:59.610+07:00</updated><title type='text'>Keinginan Umat Disaat Menang</title><content type='html'>&lt;small&gt;Al-Ikhwan.net | 10 March 2008 | 3 Rabiul Awal 1429 H | Hits: 197&lt;br /&gt; &lt;span class="postedby"&gt; DR. Muhammad Mahdi Akif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan al-muslimun, 21-02-08&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;em&gt;penterjemah : Abu Ahmad&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;____&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas nabi Muhammad bin Abdullah, nabi yang ummi dan al-amin, dan kepada keluarga dan sahabatnya serta para tabiin dengan ihsan hingga hari kiamat, selanjutnya…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Telah terlewatkan satu minggu yang penuh dengan berbagai peristiwa meliputi seluruh umat, disaat terjadi pergolakan dari kondisi diam menuju harakat, dari kalalaian menuju kesadaran, dari ketakutan menuju keberanian dan dari keterkekangan menuju kebebasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu minggu yang penuh dengan perjalanan suatu bangsa menuju kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat “Kosovo”, dan harakah menuju perubahan yang maksimal bagi rakyat “Pakistan”, sehingga membuat para pelaku penindasan yang menyangka bahwa kemampuan umat telah dikepung oleh undang-undang dan aturan-aturan yang menindas, dan telah dikekang oleh berbagai penghambaan, ditundukkan oleh kekuatan jabariyah (system pemaksaan) menjadi gentar. Kami sampaikan kepada mereka: “Telah tiba saatnya bagi orang yang bingung untuk kembali melakukan kilas balik akan stabiltas keamanan yang dibutuhkan oleh diri sendiri, saatnya menyadari bahwa hari demi hari terus berjalan, dan roda zaman terus berputar, dan bumi &lt;em&gt;“Dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”&lt;/em&gt; (Al-A’raf : 128)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umat hendaknya kembali melihat sisi prioritas, bersandarkan pada pondasi yang kokoh akan ke&lt;em&gt;tsiqoh&lt;/em&gt;an terhadap kemampuannya melakukan perubahan secara objektif menuju kehidupan yang jauh dari kehinaan dan penyerahan diri akibat kelemahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan umat yang lebih utama untuk bergerak mencapai kemerdekaannya adalah umat Islam; tidak lain kecuali karena panji-panji kebaikan yang telah diberikan secara khusus oleh Allah untuk menjadi pemimpin dan panutan &lt;em&gt;“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”&lt;/em&gt;. (Ali Imron : 110). Karena itu kewajiban umat adalah menyusun kembali batu bata harakah untuk membuka mata seluruh manusia akan eksistensi dirinya; bukan hanya sebagai karunia dan pemberian terhadap anak manusia, namun juga sebagai kewajiban Islam dan amanah rabbaniyah : &lt;em&gt;“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatnir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”.&lt;/em&gt; (Al-Ahzab : 72)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan manusia yang paling utama untuk begerak menuju kemenangan yang sesuai keinginan umat adalah &lt;em&gt;al-insan robbani&lt;/em&gt; yang telah melupakan dirinya dari tujuan hidupnya, terbelenggu jiwanya, terkungkung perasaan, kecendrungan dan keinginnya, berharap karena Allah untuk mencapai ridha-Nya, &lt;em&gt;Qanaah&lt;/em&gt;, berkorban dan totalitas yang menghilangkan segala bentuk &lt;em&gt;ashobiyah&lt;/em&gt; (fanatisme) atau perbedaan suku, bangsa dan ras, acuh terhadap pelaku perampasan para penjajah negeri yang meminta untuk ruku’ dan melecehkan kehormatannya dengan berbagai dalih atau tuduhan. Sebagaimana –&lt;em&gt;insan Robbani&lt;/em&gt;- memiliki kehormatan yang tidak akan ridha terhadap kehinaan yang melanda penduduk negeri sendiri yang disetir oleh srigala Amerika dan antek-anteknya, atau yang diputuskan oleh pelaku kerusakan dengan kerusakannya yang hanya memandang manusia seperti potongan-potongan daging yang dapat dipermainkan sesuka hatinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai para pemimpin yang mengurusi urusan umat…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kadang tampak perdamaian ditengah umat, dan kadang tampak pula keinginan dan kehendak mereka yang terampas, potensi mereka untuk melakukan perlawanan terbengkalai ditengah tercerai berainya kehidupan, undang-undang yang diskriminatif, dan slogan-slogan yang berlebihan, kedzaliman dan keangkuhan. Namun pertanyaan yang terlontar pada diri kalian adalah berapa banyak para pelaku penindasan memiliki umur yang panjang? Seberapa lamakah kediktatoran bertahan? Berapa banyak penjara-penjara yang runtuh? Berapa banyak orang yang terbelenggu dan terpenjara yang tidak mampu ditundukkan? Berapa banyak undang-undang pemeriksaan secara paksa dan darurat yang telah diterapkan tidak mampu melunturkan tekad dan keyakinan? Dan berapa banyak keputusan-keputusan yang dzalim dijatuhkan tidak mampu melemahkan semangat juang? Berapa banyak…berapa banyak? Dan berapa banyak lainnya..??&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua itu, dan banyak lagi yang lainnya apakah mampu menegakkan hukum dan negara diktator? Apakah mampu membangun peradaban dan kemajuan menuju masyarakat madani? Apakah mampu menjamin pembentukan karakter manusia yang baik?!.. untuk menjawab itu semua periksa dan telitilah buku-buku sejarah dan akan kalian dapatkan jawabannya dalam kitab Allah : &lt;em&gt;“Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan. Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”.&lt;/em&gt; (Ibrahim : 45-46) keinginan dan kehendak bangsa yang tidak pernah dilupakan oleh sejarah, terukir dalam sanubari umat seakan seperti sebuah palu yang siap memecahkan segala ikatan dan kekangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka janganlah kalian tertipu dengan kuatnya rintangan dan kedzaliman dari para penguasa sehingga menjual diri untuk bersekutu dan menjalin kerja sama. Dan renungkanlah wahai kalian yang berjalan melakukan penindasan akan firman Allah: &lt;em&gt;“Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”.&lt;/em&gt; (Fathir : 44)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan ketahuilah bahwa bekerja sama dan berjuang bersama umat adalah merupakan usaha berlepas diri dari partisipasi bersamanya terhadap penjajahan, dan taat pada kebenaran adalah merupakan satu-satunya jalan menuju kemuliaan dan kepemimpinan, maka dari itu bukalah pintu obsesi umat dengan cara melakukan kebenaran bersamanya, terikat dengannya dan ikut andil atas pendapatnya, mengaplikasikan dan merealisasikan segala obsesi dan cita-citanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai jiwa yang merdeka sekalipun berada di dalam penjara…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika pada hari ini umat berkumpul memperingati kemenangan kehendak yang telah diraih oleh rakyat di Kosovo, dan memantau apa yang terjadi di Pakistan, maka kitapun dapat melihat ikhwan kita yang berada di penjara-penjara Mesir, Palestina, Iraq dan yang lainnya akan tanda kehidupan yang cerah bagi mereka, yang mana orang-orang dzalim menduga bahwa mereka telah berhasil melecehkan kehormatan dan mencerai beraikan segala urusan serta menyimpangkan saluran keinginan dan kehendak umat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, wahai kalian yang memiliki kemuliaan dan jiwa berkorban serta tegar  dalam menghadapi ujian sampaikanlah seruan ke dalam &lt;em&gt;dlamir&lt;/em&gt;  &lt;em&gt;insan&lt;/em&gt; untuk bangkit, memetakkan front pembebasan. Karena &lt;em&gt;nur ilahi&lt;/em&gt; pasti akan bersinar kembali dan tidak mustahil terjadi, mampu melepaskan ikatan, melelehkan besi dan mendinginkan segala benda panas, memproklamirkan bahwa terali besi tidak akan mampu membatasi fikrah mereka, dan kepalsuan tidak akan mampu mematikan cahaya dan masa lalu tidak akan mampu membunuh hari esok umat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahwa ikhwanul muslimun yang sedang menunggu pengadilan militer terhadap ikhwan mereka; bangga dan yakin bahwa akan terjadi kehancuran terhadap masa depan penindasan, menjadi ancaman akan kursi kebatilan sehingga diantara mereka ada yang tetap memilih kelompoknya walaupun harus kembali kepada undang-undang yang menindas, undang-undang darurat dan pengecualian hanya untuk menghakimi mereka dengan tuduhan tidak loyal pada negara kecuali beriman dengan kemampuan warganya untuk bekerja serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi melakukan perubahan yang lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka tetapkanlah wajah dan mata kalian wahai ikhwah di dalam penjara ; karena hukum militer yang dijatuhkan terhadap kalian sehingga memasukkan kalian ke dalam penjara akan menjadi pembakar dan penyemangat sekian banyak orang yang untuk merebut kemerdekaan mereka, atau menenggelamkan ratusan yang melakukan jual beli benda-benda purbakala secara ilegal atau tenaga kerja, atau melakukan spionase dan intervensi jabatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana pengadilan yang menghakimi kalian tidak akan mampu mensirnakan kemuliaan perjalanan kalian dalam kebenaran untuk mengangkat jiwa umat dan menuju kemerdekaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jadikanlah obsesi dan impian kalian hari ini sebagai cahaya yang cerah untuk  hari esok bagi seluruh umat Islam &lt;em&gt;“Dalam beberapa tahun lagi , bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.&lt;/em&gt; (Ruum : 4-6), dan jadikanlah tetesan air mata para istri, ibu-ibu dan anak-anak karena berpisah dengan suami atau anak, dan orang tua mereka sebagai awal siraman yang akan menjadi ombak yang mampu menghancurkan bangunan kedzaliman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Wahai para ikhwan…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam syahid Hasan Al-Banna pernah mengatakan : &lt;em&gt;“Kita akan berjihad dalam rangka mewaujudkan fikrah kita, dan akan terus berjuang selama hayat masih dikandung badan, menyeru seluruh manusia kepadanya, berkorban dengan apa yang kita miliki di jalannya, sehingga kita dapat hidup dengan kemuliaan atau mati secara mulia, dan syiar yang selalu dengungkan adalah : “Allah tujuan kita, Rasul pemimpin kita, Al-Quran dustur kita, jihad jalan perjuangan kita, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kita”.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum saya menutup risalah ini ada yang ingin saya sampaikan kepada seluruh ikhwan yang berjalan di jalan dakwah : Jadilah kalian seperti ikhwan kalian yang berada di penjara-penjara, untuk semangat dalam berkorban dari waktu ke waktu, tingkatkanlah potensi dan kreativitas kalian dalam setiap kerja untuk agama ini sehingga mampu menggerakkan hati umat berjalan bersama kalian, memotivasi akan kebebasan dan kehendak mereka, tidak berputus asa terhadap kemampuan mereka miliki dalam melakukan perbaikan, tidak menyepelekan hak-hak mereka, yakin bahwa negara yang dzalim pasti akan hancur. &lt;em&gt;“Jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.&lt;/em&gt; (Al-Baqoroh : 165)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran dan perkokohlah persatuan, jangan ada diantara kalian yang terserang penyakit putus asa sehingga kedzaliman mengalahkan kalian, dan jadikanlah hubungan horizontal (dengan Tuhan) yang erat sebagai bekal yang dapat membantu kesabaran sehingga Allah memudahkan urusan kalian dan menjadikan sendi-sendi yang ada dalam jiwa kalian sebagai kehendak dalam melakukan kebaikan &lt;em&gt;“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”.&lt;/em&gt; (Al-Qashash : 5) “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak. &lt;em&gt;“Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. &lt;/em&gt;(Yusuf : 21)&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Allahu Akbar. Walillahil hamdu.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya, dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-6395288772386846755?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/6395288772386846755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=6395288772386846755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6395288772386846755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6395288772386846755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/keinginan-umat-disaat-menang.html' title='Keinginan Umat Disaat Menang'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3059957208580289907</id><published>2008-03-06T11:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.140+07:00</updated><title type='text'>Hati-hati, Ada Apa dengan Hati Ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R899sKRAzFI/AAAAAAAAAHE/YGd_W7lW0Vs/s1600-h/17.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R899sKRAzFI/AAAAAAAAAHE/YGd_W7lW0Vs/s200/17.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174492694495415378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pssst... berpekan lamanya menjadi head line tontonan kita, perceraian sepasang musisi. Ajang gosip nasional. Kasak kusuk dan bisik tetangga dan rekan kerja menambah lengkap isi otak kita dengan ghibah. Kita sibuk mencari tau kelanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa lelah, kita menjadi salah satu penikmat khabar-khabari itu. Gossip dan ghibah menjadi menu hari-hari kita. Tanpa pernah tahu untuk apa. Tanpa mau tahu untuk apa kita mendengar dan mencernanya. Tanpa terbersik kenginginan kita untuk ikut menjadi bagian dari solusi. Kita hanya melihat. Bengong. Untuk selanjutnya, bergumam yah namanya juga orang terkenal. Atau bahkan kita menjadi bagian dari wartawan reportase infotainmen yang turut memperpanjang deretan orang yang pingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum cukup dengan itu. Kita larut dalam opini yang dibangun media. Kita pun larut dengan emosi sang bintang. Kita pun kini menjadi manusia yang rentan terpengaruh oleh perilaku para tokoh. Kita menjadi bagian dari orang yang mudah menuduh, berperasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya demikian. Kita pun larut dalam sikap hedonisme, budaya serba mudah-menggampangkan-membolehkan, yang diamini oleh bagian terbesar masyarakat kita. Budaya yang mulai tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turut serta dalam kondisi ini, benih-behih kedengkian yang sebelumnya mungkin kita tidak mengenalnya. Kemudian, pada gilirannya menjadi rutinitas yang mengunjungi dada kita. Akhirnya, kita pun merasa tidak nyaman ketika saudara kita mendapatkan kemapanan, anugerah rezeki yang berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbohong, menjadi keseharian kita. Sebagaimana dipertontonkan pejabat publik dan sosok sang bintang. Beragam fenomena hati ini senantiasa bersarang dalam diri kita. Kita cenderung mendiamkannya. Membiarkannya. Menikmatinya sebagai rutinitas dan kebutuhan. Hati-hati pada gilirannya akan menjebak kita menjadikan hati kita membatu. lebih keras dari batu-bahkan.  Kalau batu saja dapat terkelupas manakala ditetesi air terus menerus malah dapat jatuh dari ketinggian, karena takutnya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Hati Kita? Waspadai penyakit hati ini, yang pada gilirannya akan membutakan mata hati kita. Kita tidak peduli pada sesama, tidak peduli pada nilai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjauhi ajang gosip dan ghibah adalah bagian dari upaya mewaspadai ini. Dimanapun. Kapanpun. Ketika kita mendapati berbagai berita, yang memojokkan saudara, kawan dan rekan kita maka tabayun, cek en ricek adalah menjadi suatu kemestin. Ketika, keberadaan kita tidak mampu memberikan solusi maka, sikap DIAM adalah lebih baik. Bukankah Diam itu emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, Maka berkatalah benar atau diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3059957208580289907?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3059957208580289907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3059957208580289907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3059957208580289907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3059957208580289907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/hati-hati-ada-apa-dengan-hati-ini.html' title='Hati-hati, Ada Apa dengan Hati Ini'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R899sKRAzFI/AAAAAAAAAHE/YGd_W7lW0Vs/s72-c/17.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-1073073776793043367</id><published>2008-03-06T10:40:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.216+07:00</updated><title type='text'>Tinta Emas Sejarah Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89xGqRAzEI/AAAAAAAAAG8/U1Fgb5Ex7ys/s1600-h/beeNflower.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89xGqRAzEI/AAAAAAAAAG8/U1Fgb5Ex7ys/s200/beeNflower.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174478856110787650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah terbersit dalam ruang bawah sadar kita, apa yang sudah kita sumbangkan untuk kemajuan anak bangsa ini. Ratusan tahun yang akan datang, adakah jerih payah tangan-tangan kita dirasakan manfaatnya oleh anak cucu kita karena merupakan modal dasar bagi kemajuan besar umat pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah keinginan dari kita untuk menorehkan tinta emas sejarah bangsanya, bahwa kita termasuk batu batu yang turut serta dalam membangun rumah besar yang adil dan makmur bernama Indonesia. Adalah suatu kerugian yang teramat besar manakala kita abai dan tidak ambil bagian dalam prosesi dahsyat ini, membuat sejarah emas atas diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak mungkin bisa lagi menghapus keteledoran kita atas masa yang sudah lewat. Lalai terhadap usia kita, masa muda kita, nikmat sehat kita. Kita tidak cukup hanya bisa menyesali atas kekhilafan dan kealpaan kita, juga tidak cukup dengan termenung ragu atas goresan tinta yang sudah terlanjur ditorehkan. Kehidupan akan terus berjalan. Sesal adalah tindakan yang tepat, jika diiringi keinginan untuk memperbaikinya, pun kemauan untuk mengubah diri menjadi penggubah dunia yang lebih elegan. Sesal menjadi tidak bermanfaat manakala justru membuat kita semakin terperosok pada kubangan penyesalan dan terus menerus menambah kebodohan kita. Sesal hanya slogan sesaat jikalau tidak ada keninginan kuta dari kita untuk segera berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan masih dan makin panjang, mendaki lagi terjal. Momentum ini akan dilewati oleh semua. Siapapun dia. Yang menginginkan suatu hasil besar atas perjalanan hidupnya. Keberhasilan. Terpenuhinya Asa. Tercapainya sebuah cita. Terlebih lagi sebuah keinginan luhur untuk kemajuan dan kejayaan umat dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari kedepan akan semakin sulit seiring keberhasilan awal, mulai tampak. Tidak perlu berbangga hati dulu, karena sesungguhnya itu adalah awal dari fase berikutnya yang lebih berat. Menyibukkan hati dengan dzikir dan doa, mengasah qolbu dengan kasih dan peduli. Mempertajam akal dengan ilmu dan rangkaian ide, menguatkan langkah lengan dan kaki untuk senantiasa bersegera dalam menyambut kebaikan. Dalam keadaan susah maupun senang, Suka ataupun duka. Lapang atau sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengisi hari dengan ilmu dan amal, menggali potensi anak bangsa agar berpadu dalam torehan sejarah besar ini. Menyambut sang calon pemimpin dengan andil penanaman iman dan akhlak agar tidak lekang oleh zamanya dan tidak lapuk oleh masanya. Kokoh sekokoh batang Jati yang mampu menunjukkan jati diri. Sebagai insan sholih dan produktif. Bekerja dan Berdoa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-1073073776793043367?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/1073073776793043367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=1073073776793043367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/1073073776793043367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/1073073776793043367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/tinta-emas-sejarah-kita.html' title='Tinta Emas Sejarah Kita'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89xGqRAzEI/AAAAAAAAAG8/U1Fgb5Ex7ys/s72-c/beeNflower.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2506193867585756305</id><published>2008-03-06T09:51:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.351+07:00</updated><title type='text'>Boleh Tapi Tidak Pantas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89nBqRAzDI/AAAAAAAAAG0/58vc0vh2XCk/s1600-h/36491.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89nBqRAzDI/AAAAAAAAAG0/58vc0vh2XCk/s200/36491.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174467775095163954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makan itu boleh. Tidur itu Mubah. Bahkan kebutuhan. Tapi ingatkah kita, untuk tidak berlebih-lebihan terhadap apapun yang diperkenankan oleh Robb kita. Jelas, itu adalah tuntunan dari baginda Rasululullah Muhammad Sholallahu Alaihi Wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sebagian masyarakat kita, bekerja seharian mencari sesuap nasi. Sebagian dari kita justru berfoya-foya, menyantap sejumlah makanan dengan banyak menu, dengan tahapan jenis makanan yang beraneka ragam. Berlebihan, tanpa peduli ada si miskin di sampingnya yang belum makan setelah bekerja seharian, tanpa peduli adakah si yatim yang belum makan hari ini, dhuafa yang kering kerontang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sisi masyarakat kita susah mencari tempat berlindung, hujan kehujanan, panas kepanasan. Di sisi lain, sebagian penggede kita, berpesta dari satu pesta ke pesta lain dengan beragam judul perhelatan dan beribu atribut yang diharap mampu mengangkat gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perkara diperbolehkan oleh Allah swt, sebagai suatu bentuk nikmat dariNya agar kita senantiasa bersyukur. Tetapi ketika perkara yang boleh itu dipergunakan tanpa mengenal batas-batas kepatutan, tanpa mau tahu sekililingnya, tanpa mempedulikan muasal yang menyebabkannya mendapatkan semua itu, maka ketahuilah Barangsiapa yang tidak beryukur atas Nikmat Allah, Sesungguhnya adzab Allah amat pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaskah kita, mempertontonkan kedigdayakan, materi maupun kekuasaan, agar masyarakat kebanyakan terkagum-kagum dengan diri kita. Pantaskah kita, bertindak tanpa memperhatikan nilai sebuah kepatutan dengan melihat siapa kita, dimana kita, atas sebab apa kita bisa seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, berperilaku mencontoh orang-orang yang sholih adalah kemestian dan kebutuhan. Agar kita tidak terjebak nikmat sesaat, tapi mendapat kecaman dari masyarakat kita. Terlebih lagi kecaman dari Sang Pemilik Kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2506193867585756305?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2506193867585756305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2506193867585756305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2506193867585756305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2506193867585756305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/boleh-tapi-tidak-pantas.html' title='Boleh Tapi Tidak Pantas'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89nBqRAzDI/AAAAAAAAAG0/58vc0vh2XCk/s72-c/36491.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3871101411298306065</id><published>2008-03-06T09:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.509+07:00</updated><title type='text'>Pemimpin Yang Dicintai Rakyatnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89bbqRAzCI/AAAAAAAAAGs/KXNEnuzG6uE/s1600-h/1Mt_Buller_1600.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89bbqRAzCI/AAAAAAAAAGs/KXNEnuzG6uE/s200/1Mt_Buller_1600.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174455027632229410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dada ini berdegup kencang ketika menyaksikan dengan lirih, seorang yang papa mengais sisa makanan dari pinggiran bak sampah sebuah mall. Hari demi hari, hatiku semakin miris melihat betapa anak bangsa sudah mulai menyemai busung lapar, kematian yang diingini karena tak sanggup lagi menahan beban hidup. Belum lagi bencana yang kini semakin akrab dengan bangsa kita, rakyat semakin akrab dengan area pengungsian. Anak-anak kita? Jangan ditanya tentang sekolahnya, jangan ditanya tentang rasa aman saat bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun di kejauhan, nafasku menghela panjang, menatap perih riuh rendahnya para pemimpin memamerkan kekayaan di hadapan rakyatnya dengan rasa penuh jumawa. Tak terkira perih rasa hati ini ketika dua kejadian paradoks tersebut semakin membelunggu bangsa kita yang kian hari kian tak berkesudahan. Ada apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin, dengan bangganya, siiring sejumlah alibi dukungun yang menggunung dari massanya membenarkan setiap tindak perilakunya. Mengumpul banyak aset sebagai modal untuk persiapan pesta demokrasi berikutnya. Agar terpilih kembali. Agar dapat kembali membela rakyat. Agar kembali menjadi yang terdepan. Agar kembali menyengsarakan rakyat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tugas kepemimpinan itu adalah amanah. Dipundak pemegang amanah itu akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya oleh Sang Kholiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penantian rakyat sudah dirasa semakin lama, akanlah pesta demokrasi akan memulai babak baru dari episode kemiskinan atas bangsa kita. Pengangguran yang terus bertambah, rasa aman yang semakin susah didapat karena sejumlah orang berebut untuk bertahan hidup walaupun menciderai kawan bahkan saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa diam. Kita tidak boleh hanya menghitung kepedihan yang semakin hari semakin bertambah di depan kita. Kita perlu segera bekerja kembali sembari terus menggedor kesadaran para pemimpin kita agar tak lupa pada tujuan mensejahterakan bangsa, lahir maupun bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, kepemimpinan itu dipergilirkan. Kepada pemimpin yang terus mengkhianati amanah besar ini, ketahuilah bagi kami, cukuplah Allah sebagai penolong kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan itu begitu nyata didepan kita. Kita masih mampu mendapatkannya. rakyat yang sejahtera dan pemimpin yang adil. Bi idznillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pemimpin yang aji mumpung mengumbar syahwat dunia, sudahilah episoda ini. Semoga Allah berkenan memilihkan untuk kita: pemimpin yang mencintai kita dan kita mencintainya. Karena kesahajaannya, karena ketawadluannya, karena empati yang besar kepada masyarakat bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3871101411298306065?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3871101411298306065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3871101411298306065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3871101411298306065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3871101411298306065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/pemimpin-yang-dicintai-rakyatnya.html' title='Pemimpin Yang Dicintai Rakyatnya'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R89bbqRAzCI/AAAAAAAAAGs/KXNEnuzG6uE/s72-c/1Mt_Buller_1600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-5339474508508765793</id><published>2008-03-04T15:13:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.687+07:00</updated><title type='text'>Tangisan Itu ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80IaSbdpqI/AAAAAAAAAFs/x3EvG2iFtjc/s1600-h/S3020091.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80IaSbdpqI/AAAAAAAAAFs/x3EvG2iFtjc/s320/S3020091.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173800794635216546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tubuh mungilnya, mengelak tegas ketika dengan tiba-tiba kuraih untuk mendiamkan tangisnya.  Tangis  itu tak jua  berhenti. Semakin  nyaring, bahkan.   Kuayun, kutimang, kubelai, kuajak canda ... ia tak bergeming. Tetap pada tangisnya. Sedih rasanya. Aku larut dalam sedihnya. Aku paham akan maunya. Tapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini belum dapat segera teratasi. Ia butuh sesuatu yang dicarinya. Ia merasakan kehilangan yang sangat akan sesuatu. Yang tidak satupun orang dapat menggantikannya. Tidak juga bujukan sang kakak atau rayuan mbakyunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia butuh sesuatu. Sebuah cinta yang ikhlas tak berbatas. Sebuah kasih yang diyakini tak akan lapuk oleh zaman. Sebuah kenyamanan yang sangat ketika berada dalam dekapannya. Tatapan mata yang penuh kehangatan hanya datang dari orang yang sangat ditunggu. Tidak tergantikan. Berjuta tetesan asa kehidupan mampu meredam rasa haus dan penat yang sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya didapan dari cinta tulus sang bunda pada Sang Calon Pemimpin Besar. Semoga kelak menjadi Pejuang Keadilan yang tidak lupa akan kasih tulus dari Sang bunda. SEMOGA.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-5339474508508765793?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/5339474508508765793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=5339474508508765793' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5339474508508765793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5339474508508765793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/tangisan-itu.html' title='Tangisan Itu ...'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80IaSbdpqI/AAAAAAAAAFs/x3EvG2iFtjc/s72-c/S3020091.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3668027368265030978</id><published>2008-03-04T14:13:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.867+07:00</updated><title type='text'>Perbedaan Itu Akan Selalu Ada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80ECCbdppI/AAAAAAAAAFk/2kuoFN5XQl8/s1600-h/3Mt_Buller_1600.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80ECCbdppI/AAAAAAAAAFk/2kuoFN5XQl8/s200/3Mt_Buller_1600.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173795979976877714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya Manusia Itu diciptakan bersuku dan berbangsa agar saling mengenal. Demikian kira-kira bunyi firman Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara satu manusia dengan manusia lain adalah sebuah keniscayaan. Setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Saat perbagai individu yang berbeda itu berkumpul, akan muncul dinamisasi. Apabila kita mampu melihat pada perspektif yang positif, maka akan ada keinginan bagaimana menjadikannya sebuah harmoni yang akan memberi kebaikan bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hakikat dunia. Namun, betapa banyak manusia yang terjebak pada pemaksaan kehendak yang tidak perlu, sepertinya menginginkan agar semua person di dunia seragam dalam mensikapi suatu kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi yang demikian berharga atas tiap diri, senadainya dikelola secara baik maka akan menjadi sebuah kekuatan yang mampu memberikan kemaslahan bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa menafikan bahwa, beragam latar belakang sejarah kehidupan seorang manusia akan sedikit banyak mempengaruhi perilaku dan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, bukankah ada satu nilai yang disepakati secara alam bawah sadar oleh bersama bahwa pada dasarnya manusia mengingkan suatu kebahagiaan, menginginkan sebuah kemudahan atas pemenuhan asanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensinergikan perbedaan menjadi sebuah bangunan besar budaya adalah sebuah kebutuhan saat ini. Lantas, bagaimana kita bersikap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggang rasa dan Lapang dada atas semua perbedaan. Sambil senantiasa memelihara nilai-nilai kebaikan yang disepakati semua manusia. Cukup dengan itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak. Ada suatu kemestian adanya untuk satu upaya, ketika mayoritas individu bersikap masa bodoh atau bertindak pada anti kemapanan. Apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi dan Silaturahim. Menyampaikan ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Alam. Allah Robbul Izzati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3668027368265030978?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3668027368265030978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3668027368265030978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3668027368265030978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3668027368265030978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/perbedaan-itu-akan-selalu-ada.html' title='Perbedaan Itu Akan Selalu Ada'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R80ECCbdppI/AAAAAAAAAFk/2kuoFN5XQl8/s72-c/3Mt_Buller_1600.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7699646895255383932</id><published>2008-03-03T13:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:36.966+07:00</updated><title type='text'>Langit Ghaza Pun Menangis...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uYYYL4XsI/AAAAAAAAAEw/VQHN_Oy8brU/s1600-h/berita_47cb87a3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uYYYL4XsI/AAAAAAAAAEw/VQHN_Oy8brU/s320/berita_47cb87a3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173396141541711554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dari Era Muslim, Senin,  3 Mar 08 13:09 WIB    &lt;div id="body"&gt;    &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/ghaza%281%29.jpg" alt="" align="right" width="180" /&gt;Duka lara… rintihan.. rasa sakit.. itulah kata-kata yang kini bergaung di Ghaza, Palestina. Tapi kata-kata itupun masih tak bisa mewakili kepiluan yang sesunguhnya terjadi dan telah mencabik-cabik jiwa penduduknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada 73 orang yang gugur sepanjang hari Sabtu (1/3) akibat serangan brutal Israel. Dan kekejaman itu terjadi tanpa ada kecaman dan kemarahan dunia atas pertumpahan darah yang terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jalan-jalan Ghaza pada pagi hari Ahad, sedikit menggambarkan bagaimana penderitaan Muslim Ghaza sesungguhnya. Langit pagi yang sepertinya tak kuasa menahan tangis lalu menitik perlahan-lahan di atas tanah Ghaza yang luluh lantak dihantam rudal-rudal Israel.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Responden&lt;i&gt; Islamonline&lt;/i&gt; melukiskan bagaimana jalan-jalan Ghaza yang sepi dari lalu lalang manusia maupun kendaraan. Toko-toko seluruhnya ditutup. Sunyi sepi menyergap semua sudut kota. Tidak ada sekolah, tidak ada perguruan tinggi yang bersuara ramai. Semua penduduk bersembunyi dalam duka di dalam rumah mereka, sebagian merawat anggota keluarga yang mengalami luka ringan maupun parah akibat serangan Israel yang terus menerus berlangsung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap rumah mempunyai kisah dan cerita duka sendiri-sendiri. Sementara pesawat tempur Israel tetap meraung dalam rentang waktu yang tidak lama di atas langit Ghaza. Pesawat-pesawat itu, seperti mencari target bayi-bayi Palestina yang masih menyusui, mencari anak-anak Palstina yang sedang tumbuh, mengintai masjid-masjid, untuk dihancurkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rumah-rumah yang sudah hancur berikut penghuninya. Gedung-gedung yang berubah menjadi puing di atas tanah seperti mainan kertas anak-anak. Para dokter di rumah-rumah sakit yang sekuat tenaga menyelamatkan para korban dengan alat seadanya dan darah tumpah di berbagai sudut ruang. Ketua tim kedokteran rumah sakit Ghaza mengatakan, sebagia besar korban yang datang sebenarnya sudah tinggal menunggu kematian karena ratusan orang dari mereka terluka parah di sekujur tubuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penduduk Ghaza, mereka meninggalkan anak-anak mereka untuk bergabung dalam gerbong mujahidin menentang penjajahan keji Israel. Pelopor mereka adalah sayap militer Hamas, Izzuddin Al-Qassam. Mereka berlomba untuk melakukan aksi menjemput syahid di jantung Israel.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang pemuda, sebut saja Khalid, dia terlibat dalam upacara pemakaman keluarganya yang meninggal akibat serangan Israel. Ia pun berteriak marah, “Kami katakan kepada para mujahidin yang ingin melakukan aksi syahid. Persiapkan diri kalian. Darah harus dibalas dengan darah. Mereka harus dibalas dengan sangat keras.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang diteriakkan Khalid, juga diteriakkan oleh ratusan orang yang mengiringi jenazah penduduk yang menjadi korban, dengan kalimat yang berbeda-beda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ghaza yang hancur luluh. Ghaza yang dihantui deru pesawat terbang penghancur. Mereka semua berdo’a kepada Rabb langit dan bumi. Semoga mereka mendapat kesabaran dan kekuatan menghadapi derita yang tak putus ini… (na-str/iol)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7699646895255383932?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7699646895255383932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7699646895255383932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7699646895255383932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7699646895255383932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/langit-ghaza-pun-menangis.html' title='Langit Ghaza Pun Menangis...'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uYYYL4XsI/AAAAAAAAAEw/VQHN_Oy8brU/s72-c/berita_47cb87a3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-5314511672223808967</id><published>2008-03-03T12:33:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.100+07:00</updated><title type='text'>Mencari Jati Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uVtYL4XqI/AAAAAAAAAEg/yBgZmsEVLqE/s1600-h/50725af3922040fd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uVtYL4XqI/AAAAAAAAAEg/yBgZmsEVLqE/s320/50725af3922040fd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173393203784081058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berulang kali, kita dapati perilaku anak muda kita terjebak pada pola hidup hedonisme di sejumlah media di negeri kita. Serba Boleh. Apapun dilakukan demi untuk mendapatkan sebuah cita, walau kadang terlalu naif untuk dimengerti. Hanya untuk mendapat sebuah handphone seseorang gadis belia rela menggadaikan kehormatannya. Cuma sekedar untuk diterima sebagai kawan dalam pergaulan, remaja belasan tahun dengan mudah menjajakan ekstasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Muda, sibuk dengan gaya hidup serba asyik serba mudah, menikmati syahwat dari satu pesta ke lain pesta. Yang Tua, sibuk dengan dunianya, pun dengan sejuta naluri hewani, sekitar perut dan -maaf antara dua kaki-, sikut kiri kanan untuk mendapatkan jabatan, tanpa peduli, untuk apa semuanya itu didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, anak bangsa yang lain menjerit, kelaparan. Dua hari lalu diberitakan seorang ibu yang sedang hamil tua dengan empat anak anak, meninggal karena kelaparan. Sang anak bergumam, terbiasa bagi kami untuk tidak makan, kalaupun makan hanya dengan nasi, tanpa lauk. Duh Gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut-sudut Jakarta, anak-anak belia usia sekolah berjejal di lampu merah, gerbong-gerbon KRL jabotabek menawarkan suara falsnya untuk menjumput rupiah demi sesuap nasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang tua kita, masa bodoh dengan polah anak-anaknya yang lebih betah di pojok-pojok play stasiun dan warnet untuk memuaskan dahaga insting bermain atau sekedar mencari tahu apa itu 'permainan dewasa' yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allhummaghfirlanaa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Saudaraku, apa yang mesti kita perbuat. Apa yang talah, sedang dan akan kita berikan bagi mereka. Mereka butuh sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, kebahagiaan yang nyata adalah ketenangan dalam jiwa manusia. Menjadi seorang yang mampu mensinergikan kekayaan yang dimiliki, masa muda yang diamanahkan Allah swt untuk menjadi pribadi yang sholeh, tidak hanya untuk dirinya semata tapi untuk lingkungannya.&lt;br /&gt;Tidak hanya sholih secara pribadi, akan tetapi enggan berderma untuk sesama, juga masa bodoh terdahap kefakiran dan kekufuran sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sekalian Manusia, sesungguhnya Allah mencipakan untuk beribadah menyembah Allah sebagaimana Allah menciptakan makhluk sebelum kalian, agar kalian menjadi Taqwa. Firman Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal diri, adalah sutu kemestian. Belajar mengenal diri akan mendorong kita untuk kembali mengevaluasi periode waktu yang sudah kita lewati. Akan kita apakan sisa waktu kita, menjadikannya lebih bermanfaat bagi sesama atau egp-emang gue pikirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah, Laa Haula Wa laa Quwwata illa billah...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-5314511672223808967?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/5314511672223808967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=5314511672223808967' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5314511672223808967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/5314511672223808967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/03/mencari-jati-diri.html' title='Mencari Jati Diri'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8uVtYL4XqI/AAAAAAAAAEg/yBgZmsEVLqE/s72-c/50725af3922040fd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3602867000957101953</id><published>2008-02-28T14:41:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.107+07:00</updated><title type='text'>Pendeta Spanyol Bolehkan Muslim Sholat di Masjid Granada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s1600-h/pic1%28119%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s320/pic1%28119%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171939771133149666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masalah izin sholat di masjid Granada bagi Muslim Spanyol mengalami kemajuan. Setidaknya setelah petinggi gereja Spanyol mengatakan bahwa sholat secara individu di masjid tersebut takkan mengganggu orang lain. Pernyataan ini disampaikan setelah kurang dari dua pekan sebelumnya, Paus Benediktus XVI melakukan ritual keagamaan Kristen di masjid Azraq di Istanbul, saat kunjungan resminya ke Turki. &lt;p&gt;Ketua Konferensi Pendeta Spanyol, Ricardo Blaskits, mengatakan, kaum Muslimin mungkin saja melakukan sholat di dalam masjid Granada secara individu. “Jika kaum Muslimin masuk masjid untuk melihat mihrab misalnya, dan waktu shalat tiba lalu mereka ingin menunaikan shalat di dalam masjid, itu tidak masalah.” &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3602867000957101953?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3602867000957101953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3602867000957101953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3602867000957101953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3602867000957101953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/pendeta-spanyol-bolehkan-muslim-sholat.html' title='Pendeta Spanyol Bolehkan Muslim Sholat di Masjid Granada'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8Zr0dobQeI/AAAAAAAAAEI/8VunM3qhxUg/s72-c/pic1%28119%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2188584149326434587</id><published>2008-02-28T14:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.256+07:00</updated><title type='text'>Cinta Kepada Allah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8ZkIdobQbI/AAAAAAAAADw/iESqIsRY_ns/s1600-h/IMG_0328.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8ZkIdobQbI/AAAAAAAAADw/iESqIsRY_ns/s320/IMG_0328.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171931318637511090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;" &gt;Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;" &gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;" &gt; sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: "Apa yang sedang anda kerjakan?" Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: "Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia". Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: "Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia". Malaikat itu berkata: "Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;" &gt;Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja &lt;i&gt;(mahdhah), &lt;/i&gt;tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara &lt;i&gt;hablun minallah &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;hablun minannas&lt;/i&gt; ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: &lt;i&gt;"Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur".&lt;/i&gt; Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah &lt;i&gt;(waliyullah)&lt;/i&gt;. Jawab beliau: &lt;i&gt;"Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri."&lt;/i&gt; Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2188584149326434587?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2188584149326434587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2188584149326434587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2188584149326434587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2188584149326434587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/cinta-kepada-allah.html' title='Cinta Kepada Allah'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8ZkIdobQbI/AAAAAAAAADw/iESqIsRY_ns/s72-c/IMG_0328.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-3719917972344733020</id><published>2008-02-26T15:48:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.550+07:00</updated><title type='text'>Nurul Ilmi, Sebuah Obsesi Untuk Anak Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YS-dobQUI/AAAAAAAAACY/1B-QWyEyJPo/s1600-h/collage8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YS-dobQUI/AAAAAAAAACY/1B-QWyEyJPo/s320/collage8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171842086396969282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bermula dari keprihatinan terhadap langkanya sarana belajar keislaman bagi anak tetangga rumah kami. Terinspirasi oleh suasana madrasah yang pernah kami ikuti pada masa usia sekolah SD dan SMP. Yaitu suasana qur'ani di sore hari oleh lantunan ayat-ayat al-quran dari ujung surau sebuah pondok yang menghidupkan madrasah diniah. Keinginan untuk berbagi kebahagiaan dengan nikmatnya dibawah naungan Al-Qur'an kepada lingkungan sekitar rumah, mendorong kami membulatkan tekad untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak bangsa yang butuh bimbingan dan sentuhan dasar-dasar keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di awal Februari 2003, kami mencoba merapihkan serpihan aktivitas-aktivitas belajar mengajar al-qur'an bagi anak-anak usia dini dan belia dalam sebuah Yayasan Pendidikan Islam Nurul Ilmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam aktivitas telah dilaksanakan, Taman Pendidikan Al-Qur'an dengan metode Qiraati, Taman Kanak-kanak Islam Terpadu serta Madrasah Diniyah, yang masing-masing menginduk pada Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Bogor dan Kantor DEpartemen Agama Kabupaten Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bi Idznillah, dengan izin Allah, aktivitas tersebut berkembang beriringan dengan telah dimilikinya area belajar yang kondisif dan representatif. Pun, aktivitas lainnya terus berkembang berupa santunan dhuafa dan yatim yang terus diagendakan dalam setiap tahunnya, juga berbagai advokasi untuk warga di lingkungan yayasan, advoaksi pendidikan anak dan problematika usaha dan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membangun perekonomian warga sekitar terus kami rintis dan kelola sebagai wadah memperoleh tambahan uang belanja bagi para ibu rumah tangga dan remaje belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedepan kami berharap dapat menghimpun kaum dhuafa wa masakin untuk juga dapat mengenyam pendidikan keislaman ini dengan penuh khidmat, dengan berdirinya Pondok Pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, setetes sumbangsih ini akan ditulis oleh Allah sebagai kebaikan dan beroleh ridlo dari Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang sepakat dengan ide besar kami, kami tunggu peran serta dalam kerja akbar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-3719917972344733020?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/3719917972344733020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=3719917972344733020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3719917972344733020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/3719917972344733020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/nurul-ilmi-sebuah-obsesi-untuk-anak.html' title='Nurul Ilmi, Sebuah Obsesi Untuk Anak Bangsa'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YS-dobQUI/AAAAAAAAACY/1B-QWyEyJPo/s72-c/collage8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-6650058529267290593</id><published>2008-02-26T15:08:00.000+07:00</published><updated>2008-02-26T15:27:28.337+07:00</updated><title type='text'>Berbekallah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan terus bergulir menunjukkan keberagaman warna dan asa.  Ketika, jenak waktu mengekang ego manusia. Seketika pula, manusia melompat menunaikan syahwatnya. Kumandang para da'i terus menyapa para insan tiada henti. Da'i tiada akan pernah lapuk oleh zaman. Hatta, kebanyakan manusia mencibirnya, mencercanya tanpa ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan zikir, syahdunya ayat-ayat Al-qur'an yang dikumandangkan terasa menyejukkan hati manusia yang merindukan kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu yang menjadi rujukan da'i menjadi ukuran untuk bertindak dengan sejuk dan elegan. Shabar dan sholat menjadi kemestian dalam melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai mereka tahu, indahnya hidup dalam kebersamaan bernaungkan kesejukan dan kedamaian. Niscaya berbondong berjuta-juta manusia memenuhi seruan para da'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah TAQWA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YAKINLAH WAHAI SAUDARAKU, Sesungguhnya kemenangan itu teramat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-6650058529267290593?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/6650058529267290593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=6650058529267290593' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6650058529267290593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/6650058529267290593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/berbekallah.html' title='Berbekallah'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-2021354401212078116</id><published>2008-02-26T11:26:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.645+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tiada hari tanpa asa ...'/><title type='text'>Manusia Mahkluk Tuhan Paling Uniq ...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PQ9dobQRI/AAAAAAAAACA/sBg4AWG_xb0/s1600-h/S3020018.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PQ9dobQRI/AAAAAAAAACA/sBg4AWG_xb0/s200/S3020018.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171206551496245522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia diciptakan Tuhan bersuku, berbangsa dan berbahasa yang beda ... agar mereka saling mengenal dan bersosialisai. Perbedaan inilah yang menjadi nilai lebih makhluk yang bernama manusia diciptakan. Tidak layak bagi kita untuk memandang dengan sebelah mata kepada orang yang berbeda dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman merupakan keniscayaan ... yang kemunculan diperlukan bagi pembagian peran yang multi dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap Individu memiliki keunikan tersendiri baik lantunan suara, syu-ur (nilai rasa), dan kecenderungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perlu diingat, perbedaan kita harus bermuara pada hakikat tujuan kita diciptakan. Disinilah letak pentingnya Ad-din sebagai pengarah yang meluruskan langkah kita sebagaimana yang diinginkan Sang Pemilik Kehidupan, Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-2021354401212078116?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/2021354401212078116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=2021354401212078116' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2021354401212078116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/2021354401212078116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/manusia-mahkluk-tuhan-paling-uniq.html' title='Manusia Mahkluk Tuhan Paling Uniq ...'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PQ9dobQRI/AAAAAAAAACA/sBg4AWG_xb0/s72-c/S3020018.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-8224406522020788403</id><published>2008-02-25T15:19:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.821+07:00</updated><title type='text'>Rumahku Syurgaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YN1NobQTI/AAAAAAAAACQ/FjgzwgREw1c/s1600-h/collage7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YN1NobQTI/AAAAAAAAACQ/FjgzwgREw1c/s320/collage7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171836429925040434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada kudwah hasanah kita, Rasulullah Muhammad sholallahu alaihi wa sallam ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, Maha suci Allah .... Tanpa terasa, empat belas tahun sudah kami merajut kebahagiaan bersama 'sang permata hatiku' . Suka duka kami lalui bersama, semuanya atas izin dan perkenan Nya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pernikahan kami di sebuah desa sejuk nan indah ... karangkulon, bandongan, Magelang ... menambah rasa syukur kami kehadirat Illahi robbi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan antara YA dan TIDAK dalam mengambil keputusan ini ... ternyata membawa kami kepada kenikmatan yang datang silih berganti ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam putra yang lucu dan sehat , Engkau hadirkan dalam kehidupan kami , semoga membawa tidak akan mengurangi rasa syukur kami atas nikmat yang Engkau berikan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar, bercita2 menjadi Ulama yang Pengusaha, saat ini mondok di suatu pondok nan asri di kuningan jawa barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mush'ab yang saat ini di bangku kelas 6 SD, tak mau ketinggalan , hendak mengikuti jejak kakaknya di husnul ... dal lihat cita-cita besarnya ... Teknokrat yang Sholih ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah, putri kecilku ... merajut kelas 3 sebuat sdit di bilangan depok ... 'Ayah , doakan kami menjadi ahli kandungan yang menolong sesama kaum wanita di dunia...' pintanya suatu ketika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fayad, ketegaran ketika serangan asma yang sesekali menemaninya ... tak pernah surut untuk terus berkarya sebagai mana kakaknya ... 'Abi ... aku mau jadi tentara yang bertaqwa ...'  Allahu Akbar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja'far ... kelucuan dan kecerdasannya  ... tak membuat pongah tapi justru semakin santun pada Ayah Bundanya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zubeir ... perjalanan keras atas proses kelahirannya ... semoga Allah jadian ia .., pribadi muttaqin yang diridloi Allah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah , Kumpulkan kami bersama orang-orang yang tak pernah alpa dalam mensyukuri nikmat yang Engkau Anugerahkan ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fabiayyi A laa i robbikuma tukadzibaan ...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-8224406522020788403?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/8224406522020788403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=8224406522020788403' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/8224406522020788403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/8224406522020788403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/rumahku-syurgaku.html' title='Rumahku Syurgaku'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8YN1NobQTI/AAAAAAAAACQ/FjgzwgREw1c/s72-c/collage7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1046908770355425180.post-7918676252860517192</id><published>2008-02-25T15:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:07:37.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepada putra-putriku terkasih'/><title type='text'>Mendidik Anak dalam Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PO0tobQQI/AAAAAAAAAB4/etnDL484NfY/s1600-h/S3020008.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PO0tobQQI/AAAAAAAAAB4/etnDL484NfY/s320/S3020008.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171204202149134594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak merupakan amanah dari Allah yang suatu saat akan dimintai tanggung jawab oleh Sang Pemberi Amanah, Allah swt. Keberadaanya banyak ditunggu oleh jutaan pasangan manusia di dunia. Namun, tak sedikit yang menghindari kehadirannya. Pun, adapula yang mengharapkannya tetapi begitu hadir di hadapannya tidak sedikit yang mencampakkan ketika keceriaan sang anak mulai tubuh dan asa akan masa depannya mulai menyemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kepedulian kita untuk berbuat lebih kepada anak-anak kita ... dengan membuat tinta emas bagi sejarah kehidupannya ... yang akan membawa kemaslahatan bagi kebaikan generasi mendatang ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peduli terhadapa mereka ... adalah sebuah keniscayaan ...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1046908770355425180-7918676252860517192?l=jokoprayitno.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/feeds/7918676252860517192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1046908770355425180&amp;postID=7918676252860517192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7918676252860517192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1046908770355425180/posts/default/7918676252860517192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jokoprayitno.blogspot.com/2008/02/mendidik-anak-dalam-islam.html' title='Mendidik Anak dalam Islam'/><author><name>Joko Prayitno</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07260059224795650649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/SLOqmSBb6lI/AAAAAAAAAKc/ZGABh27Fwmo/S220/S3020018.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__Fsgu_llk4Q/R8PO0tobQQI/AAAAAAAAAB4/etnDL484NfY/s72-c/S3020008.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
