Jumat, Maret 14, 2008

Keinginan Umat Disaat Menang

Al-Ikhwan.net | 10 March 2008 | 3 Rabiul Awal 1429 H | Hits: 197
DR. Muhammad Mahdi Akif

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan al-muslimun, 21-02-08

penterjemah : Abu Ahmad

____

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas nabi Muhammad bin Abdullah, nabi yang ummi dan al-amin, dan kepada keluarga dan sahabatnya serta para tabiin dengan ihsan hingga hari kiamat, selanjutnya…

Telah terlewatkan satu minggu yang penuh dengan berbagai peristiwa meliputi seluruh umat, disaat terjadi pergolakan dari kondisi diam menuju harakat, dari kalalaian menuju kesadaran, dari ketakutan menuju keberanian dan dari keterkekangan menuju kebebasan.

Satu minggu yang penuh dengan perjalanan suatu bangsa menuju kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat “Kosovo”, dan harakah menuju perubahan yang maksimal bagi rakyat “Pakistan”, sehingga membuat para pelaku penindasan yang menyangka bahwa kemampuan umat telah dikepung oleh undang-undang dan aturan-aturan yang menindas, dan telah dikekang oleh berbagai penghambaan, ditundukkan oleh kekuatan jabariyah (system pemaksaan) menjadi gentar. Kami sampaikan kepada mereka: “Telah tiba saatnya bagi orang yang bingung untuk kembali melakukan kilas balik akan stabiltas keamanan yang dibutuhkan oleh diri sendiri, saatnya menyadari bahwa hari demi hari terus berjalan, dan roda zaman terus berputar, dan bumi “Dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-A’raf : 128)

Umat hendaknya kembali melihat sisi prioritas, bersandarkan pada pondasi yang kokoh akan ketsiqohan terhadap kemampuannya melakukan perubahan secara objektif menuju kehidupan yang jauh dari kehinaan dan penyerahan diri akibat kelemahan.

Dan umat yang lebih utama untuk bergerak mencapai kemerdekaannya adalah umat Islam; tidak lain kecuali karena panji-panji kebaikan yang telah diberikan secara khusus oleh Allah untuk menjadi pemimpin dan panutan “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imron : 110). Karena itu kewajiban umat adalah menyusun kembali batu bata harakah untuk membuka mata seluruh manusia akan eksistensi dirinya; bukan hanya sebagai karunia dan pemberian terhadap anak manusia, namun juga sebagai kewajiban Islam dan amanah rabbaniyah : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatnir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”. (Al-Ahzab : 72)

Dan manusia yang paling utama untuk begerak menuju kemenangan yang sesuai keinginan umat adalah al-insan robbani yang telah melupakan dirinya dari tujuan hidupnya, terbelenggu jiwanya, terkungkung perasaan, kecendrungan dan keinginnya, berharap karena Allah untuk mencapai ridha-Nya, Qanaah, berkorban dan totalitas yang menghilangkan segala bentuk ashobiyah (fanatisme) atau perbedaan suku, bangsa dan ras, acuh terhadap pelaku perampasan para penjajah negeri yang meminta untuk ruku’ dan melecehkan kehormatannya dengan berbagai dalih atau tuduhan. Sebagaimana –insan Robbani- memiliki kehormatan yang tidak akan ridha terhadap kehinaan yang melanda penduduk negeri sendiri yang disetir oleh srigala Amerika dan antek-anteknya, atau yang diputuskan oleh pelaku kerusakan dengan kerusakannya yang hanya memandang manusia seperti potongan-potongan daging yang dapat dipermainkan sesuka hatinya.

Wahai para pemimpin yang mengurusi urusan umat…

Kadang tampak perdamaian ditengah umat, dan kadang tampak pula keinginan dan kehendak mereka yang terampas, potensi mereka untuk melakukan perlawanan terbengkalai ditengah tercerai berainya kehidupan, undang-undang yang diskriminatif, dan slogan-slogan yang berlebihan, kedzaliman dan keangkuhan. Namun pertanyaan yang terlontar pada diri kalian adalah berapa banyak para pelaku penindasan memiliki umur yang panjang? Seberapa lamakah kediktatoran bertahan? Berapa banyak penjara-penjara yang runtuh? Berapa banyak orang yang terbelenggu dan terpenjara yang tidak mampu ditundukkan? Berapa banyak undang-undang pemeriksaan secara paksa dan darurat yang telah diterapkan tidak mampu melunturkan tekad dan keyakinan? Dan berapa banyak keputusan-keputusan yang dzalim dijatuhkan tidak mampu melemahkan semangat juang? Berapa banyak…berapa banyak? Dan berapa banyak lainnya..??

Semua itu, dan banyak lagi yang lainnya apakah mampu menegakkan hukum dan negara diktator? Apakah mampu membangun peradaban dan kemajuan menuju masyarakat madani? Apakah mampu menjamin pembentukan karakter manusia yang baik?!.. untuk menjawab itu semua periksa dan telitilah buku-buku sejarah dan akan kalian dapatkan jawabannya dalam kitab Allah : “Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan. Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya”. (Ibrahim : 45-46) keinginan dan kehendak bangsa yang tidak pernah dilupakan oleh sejarah, terukir dalam sanubari umat seakan seperti sebuah palu yang siap memecahkan segala ikatan dan kekangan.

Maka janganlah kalian tertipu dengan kuatnya rintangan dan kedzaliman dari para penguasa sehingga menjual diri untuk bersekutu dan menjalin kerja sama. Dan renungkanlah wahai kalian yang berjalan melakukan penindasan akan firman Allah: “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”. (Fathir : 44)

Dan ketahuilah bahwa bekerja sama dan berjuang bersama umat adalah merupakan usaha berlepas diri dari partisipasi bersamanya terhadap penjajahan, dan taat pada kebenaran adalah merupakan satu-satunya jalan menuju kemuliaan dan kepemimpinan, maka dari itu bukalah pintu obsesi umat dengan cara melakukan kebenaran bersamanya, terikat dengannya dan ikut andil atas pendapatnya, mengaplikasikan dan merealisasikan segala obsesi dan cita-citanya.

Wahai jiwa yang merdeka sekalipun berada di dalam penjara…

Jika pada hari ini umat berkumpul memperingati kemenangan kehendak yang telah diraih oleh rakyat di Kosovo, dan memantau apa yang terjadi di Pakistan, maka kitapun dapat melihat ikhwan kita yang berada di penjara-penjara Mesir, Palestina, Iraq dan yang lainnya akan tanda kehidupan yang cerah bagi mereka, yang mana orang-orang dzalim menduga bahwa mereka telah berhasil melecehkan kehormatan dan mencerai beraikan segala urusan serta menyimpangkan saluran keinginan dan kehendak umat.

Namun, wahai kalian yang memiliki kemuliaan dan jiwa berkorban serta tegar dalam menghadapi ujian sampaikanlah seruan ke dalam dlamir insan untuk bangkit, memetakkan front pembebasan. Karena nur ilahi pasti akan bersinar kembali dan tidak mustahil terjadi, mampu melepaskan ikatan, melelehkan besi dan mendinginkan segala benda panas, memproklamirkan bahwa terali besi tidak akan mampu membatasi fikrah mereka, dan kepalsuan tidak akan mampu mematikan cahaya dan masa lalu tidak akan mampu membunuh hari esok umat.

Bahwa ikhwanul muslimun yang sedang menunggu pengadilan militer terhadap ikhwan mereka; bangga dan yakin bahwa akan terjadi kehancuran terhadap masa depan penindasan, menjadi ancaman akan kursi kebatilan sehingga diantara mereka ada yang tetap memilih kelompoknya walaupun harus kembali kepada undang-undang yang menindas, undang-undang darurat dan pengecualian hanya untuk menghakimi mereka dengan tuduhan tidak loyal pada negara kecuali beriman dengan kemampuan warganya untuk bekerja serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan mimpi melakukan perubahan yang lebih baik.

Maka tetapkanlah wajah dan mata kalian wahai ikhwah di dalam penjara ; karena hukum militer yang dijatuhkan terhadap kalian sehingga memasukkan kalian ke dalam penjara akan menjadi pembakar dan penyemangat sekian banyak orang yang untuk merebut kemerdekaan mereka, atau menenggelamkan ratusan yang melakukan jual beli benda-benda purbakala secara ilegal atau tenaga kerja, atau melakukan spionase dan intervensi jabatan.

Sebagaimana pengadilan yang menghakimi kalian tidak akan mampu mensirnakan kemuliaan perjalanan kalian dalam kebenaran untuk mengangkat jiwa umat dan menuju kemerdekaan.

Jadikanlah obsesi dan impian kalian hari ini sebagai cahaya yang cerah untuk hari esok bagi seluruh umat Islam “Dalam beberapa tahun lagi , bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang. (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Ruum : 4-6), dan jadikanlah tetesan air mata para istri, ibu-ibu dan anak-anak karena berpisah dengan suami atau anak, dan orang tua mereka sebagai awal siraman yang akan menjadi ombak yang mampu menghancurkan bangunan kedzaliman.

Wahai para ikhwan…

Imam syahid Hasan Al-Banna pernah mengatakan : “Kita akan berjihad dalam rangka mewaujudkan fikrah kita, dan akan terus berjuang selama hayat masih dikandung badan, menyeru seluruh manusia kepadanya, berkorban dengan apa yang kita miliki di jalannya, sehingga kita dapat hidup dengan kemuliaan atau mati secara mulia, dan syiar yang selalu dengungkan adalah : “Allah tujuan kita, Rasul pemimpin kita, Al-Quran dustur kita, jihad jalan perjuangan kita, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kita”.

Sebelum saya menutup risalah ini ada yang ingin saya sampaikan kepada seluruh ikhwan yang berjalan di jalan dakwah : Jadilah kalian seperti ikhwan kalian yang berada di penjara-penjara, untuk semangat dalam berkorban dari waktu ke waktu, tingkatkanlah potensi dan kreativitas kalian dalam setiap kerja untuk agama ini sehingga mampu menggerakkan hati umat berjalan bersama kalian, memotivasi akan kebebasan dan kehendak mereka, tidak berputus asa terhadap kemampuan mereka miliki dalam melakukan perbaikan, tidak menyepelekan hak-hak mereka, yakin bahwa negara yang dzalim pasti akan hancur. “Jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (Al-Baqoroh : 165)

Maka bersabarlah, kuatkanlah kesabaran dan perkokohlah persatuan, jangan ada diantara kalian yang terserang penyakit putus asa sehingga kedzaliman mengalahkan kalian, dan jadikanlah hubungan horizontal (dengan Tuhan) yang erat sebagai bekal yang dapat membantu kesabaran sehingga Allah memudahkan urusan kalian dan menjadikan sendi-sendi yang ada dalam jiwa kalian sebagai kehendak dalam melakukan kebaikan “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash : 5) “Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh Jadi Dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut Dia sebagai anak. “Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi. dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf : 21)

Allahu Akbar. Walillahil hamdu.

Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya, dan segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

Kamis, Maret 06, 2008

Hati-hati, Ada Apa dengan Hati Ini


Pssst... berpekan lamanya menjadi head line tontonan kita, perceraian sepasang musisi. Ajang gosip nasional. Kasak kusuk dan bisik tetangga dan rekan kerja menambah lengkap isi otak kita dengan ghibah. Kita sibuk mencari tau kelanjutannya.

Tanpa lelah, kita menjadi salah satu penikmat khabar-khabari itu. Gossip dan ghibah menjadi menu hari-hari kita. Tanpa pernah tahu untuk apa. Tanpa mau tahu untuk apa kita mendengar dan mencernanya. Tanpa terbersik kenginginan kita untuk ikut menjadi bagian dari solusi. Kita hanya melihat. Bengong. Untuk selanjutnya, bergumam yah namanya juga orang terkenal. Atau bahkan kita menjadi bagian dari wartawan reportase infotainmen yang turut memperpanjang deretan orang yang pingin tahu.

Belum cukup dengan itu. Kita larut dalam opini yang dibangun media. Kita pun larut dengan emosi sang bintang. Kita pun kini menjadi manusia yang rentan terpengaruh oleh perilaku para tokoh. Kita menjadi bagian dari orang yang mudah menuduh, berperasangka.

Tidak hanya demikian. Kita pun larut dalam sikap hedonisme, budaya serba mudah-menggampangkan-membolehkan, yang diamini oleh bagian terbesar masyarakat kita. Budaya yang mulai tumbuh dan berkembang.

Turut serta dalam kondisi ini, benih-behih kedengkian yang sebelumnya mungkin kita tidak mengenalnya. Kemudian, pada gilirannya menjadi rutinitas yang mengunjungi dada kita. Akhirnya, kita pun merasa tidak nyaman ketika saudara kita mendapatkan kemapanan, anugerah rezeki yang berlebih.

Berbohong, menjadi keseharian kita. Sebagaimana dipertontonkan pejabat publik dan sosok sang bintang. Beragam fenomena hati ini senantiasa bersarang dalam diri kita. Kita cenderung mendiamkannya. Membiarkannya. Menikmatinya sebagai rutinitas dan kebutuhan. Hati-hati pada gilirannya akan menjebak kita menjadikan hati kita membatu. lebih keras dari batu-bahkan. Kalau batu saja dapat terkelupas manakala ditetesi air terus menerus malah dapat jatuh dari ketinggian, karena takutnya kepada Allah.

Bagaimana dengan Hati Kita? Waspadai penyakit hati ini, yang pada gilirannya akan membutakan mata hati kita. Kita tidak peduli pada sesama, tidak peduli pada nilai kebenaran.

Menjauhi ajang gosip dan ghibah adalah bagian dari upaya mewaspadai ini. Dimanapun. Kapanpun. Ketika kita mendapati berbagai berita, yang memojokkan saudara, kawan dan rekan kita maka tabayun, cek en ricek adalah menjadi suatu kemestin. Ketika, keberadaan kita tidak mampu memberikan solusi maka, sikap DIAM adalah lebih baik. Bukankah Diam itu emas.

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, Maka berkatalah benar atau diam.


Tinta Emas Sejarah Kita


Pernahkah terbersit dalam ruang bawah sadar kita, apa yang sudah kita sumbangkan untuk kemajuan anak bangsa ini. Ratusan tahun yang akan datang, adakah jerih payah tangan-tangan kita dirasakan manfaatnya oleh anak cucu kita karena merupakan modal dasar bagi kemajuan besar umat pada masa mendatang.

Adakah keinginan dari kita untuk menorehkan tinta emas sejarah bangsanya, bahwa kita termasuk batu batu yang turut serta dalam membangun rumah besar yang adil dan makmur bernama Indonesia. Adalah suatu kerugian yang teramat besar manakala kita abai dan tidak ambil bagian dalam prosesi dahsyat ini, membuat sejarah emas atas diri kita.

Kita tidak mungkin bisa lagi menghapus keteledoran kita atas masa yang sudah lewat. Lalai terhadap usia kita, masa muda kita, nikmat sehat kita. Kita tidak cukup hanya bisa menyesali atas kekhilafan dan kealpaan kita, juga tidak cukup dengan termenung ragu atas goresan tinta yang sudah terlanjur ditorehkan. Kehidupan akan terus berjalan. Sesal adalah tindakan yang tepat, jika diiringi keinginan untuk memperbaikinya, pun kemauan untuk mengubah diri menjadi penggubah dunia yang lebih elegan. Sesal menjadi tidak bermanfaat manakala justru membuat kita semakin terperosok pada kubangan penyesalan dan terus menerus menambah kebodohan kita. Sesal hanya slogan sesaat jikalau tidak ada keninginan kuta dari kita untuk segera berbenah.

Jalan masih dan makin panjang, mendaki lagi terjal. Momentum ini akan dilewati oleh semua. Siapapun dia. Yang menginginkan suatu hasil besar atas perjalanan hidupnya. Keberhasilan. Terpenuhinya Asa. Tercapainya sebuah cita. Terlebih lagi sebuah keinginan luhur untuk kemajuan dan kejayaan umat dan bangsanya.

Hari demi hari kedepan akan semakin sulit seiring keberhasilan awal, mulai tampak. Tidak perlu berbangga hati dulu, karena sesungguhnya itu adalah awal dari fase berikutnya yang lebih berat. Menyibukkan hati dengan dzikir dan doa, mengasah qolbu dengan kasih dan peduli. Mempertajam akal dengan ilmu dan rangkaian ide, menguatkan langkah lengan dan kaki untuk senantiasa bersegera dalam menyambut kebaikan. Dalam keadaan susah maupun senang, Suka ataupun duka. Lapang atau sempit.

Mengisi hari dengan ilmu dan amal, menggali potensi anak bangsa agar berpadu dalam torehan sejarah besar ini. Menyambut sang calon pemimpin dengan andil penanaman iman dan akhlak agar tidak lekang oleh zamanya dan tidak lapuk oleh masanya. Kokoh sekokoh batang Jati yang mampu menunjukkan jati diri. Sebagai insan sholih dan produktif. Bekerja dan Berdoa.

Boleh Tapi Tidak Pantas


Makan itu boleh. Tidur itu Mubah. Bahkan kebutuhan. Tapi ingatkah kita, untuk tidak berlebih-lebihan terhadap apapun yang diperkenankan oleh Robb kita. Jelas, itu adalah tuntunan dari baginda Rasululullah Muhammad Sholallahu Alaihi Wa sallam.

Pada saat sebagian masyarakat kita, bekerja seharian mencari sesuap nasi. Sebagian dari kita justru berfoya-foya, menyantap sejumlah makanan dengan banyak menu, dengan tahapan jenis makanan yang beraneka ragam. Berlebihan, tanpa peduli ada si miskin di sampingnya yang belum makan setelah bekerja seharian, tanpa peduli adakah si yatim yang belum makan hari ini, dhuafa yang kering kerontang.

Satu sisi masyarakat kita susah mencari tempat berlindung, hujan kehujanan, panas kepanasan. Di sisi lain, sebagian penggede kita, berpesta dari satu pesta ke pesta lain dengan beragam judul perhelatan dan beribu atribut yang diharap mampu mengangkat gengsi.

Suatu perkara diperbolehkan oleh Allah swt, sebagai suatu bentuk nikmat dariNya agar kita senantiasa bersyukur. Tetapi ketika perkara yang boleh itu dipergunakan tanpa mengenal batas-batas kepatutan, tanpa mau tahu sekililingnya, tanpa mempedulikan muasal yang menyebabkannya mendapatkan semua itu, maka ketahuilah Barangsiapa yang tidak beryukur atas Nikmat Allah, Sesungguhnya adzab Allah amat pedih.

Pantaskah kita, mempertontonkan kedigdayakan, materi maupun kekuasaan, agar masyarakat kebanyakan terkagum-kagum dengan diri kita. Pantaskah kita, bertindak tanpa memperhatikan nilai sebuah kepatutan dengan melihat siapa kita, dimana kita, atas sebab apa kita bisa seperti ini.

Maka, berperilaku mencontoh orang-orang yang sholih adalah kemestian dan kebutuhan. Agar kita tidak terjebak nikmat sesaat, tapi mendapat kecaman dari masyarakat kita. Terlebih lagi kecaman dari Sang Pemilik Kehidupan.

Pemimpin Yang Dicintai Rakyatnya


Dada ini berdegup kencang ketika menyaksikan dengan lirih, seorang yang papa mengais sisa makanan dari pinggiran bak sampah sebuah mall. Hari demi hari, hatiku semakin miris melihat betapa anak bangsa sudah mulai menyemai busung lapar, kematian yang diingini karena tak sanggup lagi menahan beban hidup. Belum lagi bencana yang kini semakin akrab dengan bangsa kita, rakyat semakin akrab dengan area pengungsian. Anak-anak kita? Jangan ditanya tentang sekolahnya, jangan ditanya tentang rasa aman saat bermain.

Nun di kejauhan, nafasku menghela panjang, menatap perih riuh rendahnya para pemimpin memamerkan kekayaan di hadapan rakyatnya dengan rasa penuh jumawa. Tak terkira perih rasa hati ini ketika dua kejadian paradoks tersebut semakin membelunggu bangsa kita yang kian hari kian tak berkesudahan. Ada apa ini?

Para pemimpin, dengan bangganya, siiring sejumlah alibi dukungun yang menggunung dari massanya membenarkan setiap tindak perilakunya. Mengumpul banyak aset sebagai modal untuk persiapan pesta demokrasi berikutnya. Agar terpilih kembali. Agar dapat kembali membela rakyat. Agar kembali menjadi yang terdepan. Agar kembali menyengsarakan rakyat?

Sesungguhnya tugas kepemimpinan itu adalah amanah. Dipundak pemegang amanah itu akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya oleh Sang Kholiq.

Ketika penantian rakyat sudah dirasa semakin lama, akanlah pesta demokrasi akan memulai babak baru dari episode kemiskinan atas bangsa kita. Pengangguran yang terus bertambah, rasa aman yang semakin susah didapat karena sejumlah orang berebut untuk bertahan hidup walaupun menciderai kawan bahkan saudaranya.

Kita tidak bisa diam. Kita tidak boleh hanya menghitung kepedihan yang semakin hari semakin bertambah di depan kita. Kita perlu segera bekerja kembali sembari terus menggedor kesadaran para pemimpin kita agar tak lupa pada tujuan mensejahterakan bangsa, lahir maupun bathin.

Sesungguhnya, kepemimpinan itu dipergilirkan. Kepada pemimpin yang terus mengkhianati amanah besar ini, ketahuilah bagi kami, cukuplah Allah sebagai penolong kita.

Harapan itu begitu nyata didepan kita. Kita masih mampu mendapatkannya. rakyat yang sejahtera dan pemimpin yang adil. Bi idznillah.

Kepada pemimpin yang aji mumpung mengumbar syahwat dunia, sudahilah episoda ini. Semoga Allah berkenan memilihkan untuk kita: pemimpin yang mencintai kita dan kita mencintainya. Karena kesahajaannya, karena ketawadluannya, karena empati yang besar kepada masyarakat bangsanya.

Selasa, Maret 04, 2008

Tangisan Itu ...


Tubuh mungilnya, mengelak tegas ketika dengan tiba-tiba kuraih untuk mendiamkan tangisnya. Tangis itu tak jua berhenti. Semakin nyaring, bahkan. Kuayun, kutimang, kubelai, kuajak canda ... ia tak bergeming. Tetap pada tangisnya. Sedih rasanya. Aku larut dalam sedihnya. Aku paham akan maunya. Tapi.

Kondisi ini belum dapat segera teratasi. Ia butuh sesuatu yang dicarinya. Ia merasakan kehilangan yang sangat akan sesuatu. Yang tidak satupun orang dapat menggantikannya. Tidak juga bujukan sang kakak atau rayuan mbakyunya.

Ia butuh sesuatu. Sebuah cinta yang ikhlas tak berbatas. Sebuah kasih yang diyakini tak akan lapuk oleh zaman. Sebuah kenyamanan yang sangat ketika berada dalam dekapannya. Tatapan mata yang penuh kehangatan hanya datang dari orang yang sangat ditunggu. Tidak tergantikan. Berjuta tetesan asa kehidupan mampu meredam rasa haus dan penat yang sangat.

Semuanya didapan dari cinta tulus sang bunda pada Sang Calon Pemimpin Besar. Semoga kelak menjadi Pejuang Keadilan yang tidak lupa akan kasih tulus dari Sang bunda. SEMOGA.

Perbedaan Itu Akan Selalu Ada


Sesungguhnya Manusia Itu diciptakan bersuku dan berbangsa agar saling mengenal. Demikian kira-kira bunyi firman Allah swt.

Perbedaan antara satu manusia dengan manusia lain adalah sebuah keniscayaan. Setiap individu memiliki keunikan tersendiri. Saat perbagai individu yang berbeda itu berkumpul, akan muncul dinamisasi. Apabila kita mampu melihat pada perspektif yang positif, maka akan ada keinginan bagaimana menjadikannya sebuah harmoni yang akan memberi kebaikan bagi semua.

Itulah hakikat dunia. Namun, betapa banyak manusia yang terjebak pada pemaksaan kehendak yang tidak perlu, sepertinya menginginkan agar semua person di dunia seragam dalam mensikapi suatu kejadian.

Potensi yang demikian berharga atas tiap diri, senadainya dikelola secara baik maka akan menjadi sebuah kekuatan yang mampu memberikan kemaslahan bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.

Kita tidak bisa menafikan bahwa, beragam latar belakang sejarah kehidupan seorang manusia akan sedikit banyak mempengaruhi perilaku dan sikap.

Tetapi, bukankah ada satu nilai yang disepakati secara alam bawah sadar oleh bersama bahwa pada dasarnya manusia mengingkan suatu kebahagiaan, menginginkan sebuah kemudahan atas pemenuhan asanya.

Mensinergikan perbedaan menjadi sebuah bangunan besar budaya adalah sebuah kebutuhan saat ini. Lantas, bagaimana kita bersikap?

Tenggang rasa dan Lapang dada atas semua perbedaan. Sambil senantiasa memelihara nilai-nilai kebaikan yang disepakati semua manusia. Cukup dengan itukah?

Tentu tidak. Ada suatu kemestian adanya untuk satu upaya, ketika mayoritas individu bersikap masa bodoh atau bertindak pada anti kemapanan. Apakah itu?

Berbagi dan Silaturahim. Menyampaikan ayat-ayat cinta dari Sang Pemilik Alam. Allah Robbul Izzati.

Senin, Maret 03, 2008

Langit Ghaza Pun Menangis...

Dari Era Muslim, Senin, 3 Mar 08 13:09 WIB

Duka lara… rintihan.. rasa sakit.. itulah kata-kata yang kini bergaung di Ghaza, Palestina. Tapi kata-kata itupun masih tak bisa mewakili kepiluan yang sesunguhnya terjadi dan telah mencabik-cabik jiwa penduduknya.

Ada 73 orang yang gugur sepanjang hari Sabtu (1/3) akibat serangan brutal Israel. Dan kekejaman itu terjadi tanpa ada kecaman dan kemarahan dunia atas pertumpahan darah yang terjadi.

Jalan-jalan Ghaza pada pagi hari Ahad, sedikit menggambarkan bagaimana penderitaan Muslim Ghaza sesungguhnya. Langit pagi yang sepertinya tak kuasa menahan tangis lalu menitik perlahan-lahan di atas tanah Ghaza yang luluh lantak dihantam rudal-rudal Israel.

Responden Islamonline melukiskan bagaimana jalan-jalan Ghaza yang sepi dari lalu lalang manusia maupun kendaraan. Toko-toko seluruhnya ditutup. Sunyi sepi menyergap semua sudut kota. Tidak ada sekolah, tidak ada perguruan tinggi yang bersuara ramai. Semua penduduk bersembunyi dalam duka di dalam rumah mereka, sebagian merawat anggota keluarga yang mengalami luka ringan maupun parah akibat serangan Israel yang terus menerus berlangsung.

Setiap rumah mempunyai kisah dan cerita duka sendiri-sendiri. Sementara pesawat tempur Israel tetap meraung dalam rentang waktu yang tidak lama di atas langit Ghaza. Pesawat-pesawat itu, seperti mencari target bayi-bayi Palestina yang masih menyusui, mencari anak-anak Palstina yang sedang tumbuh, mengintai masjid-masjid, untuk dihancurkan.

Rumah-rumah yang sudah hancur berikut penghuninya. Gedung-gedung yang berubah menjadi puing di atas tanah seperti mainan kertas anak-anak. Para dokter di rumah-rumah sakit yang sekuat tenaga menyelamatkan para korban dengan alat seadanya dan darah tumpah di berbagai sudut ruang. Ketua tim kedokteran rumah sakit Ghaza mengatakan, sebagia besar korban yang datang sebenarnya sudah tinggal menunggu kematian karena ratusan orang dari mereka terluka parah di sekujur tubuhnya.

Penduduk Ghaza, mereka meninggalkan anak-anak mereka untuk bergabung dalam gerbong mujahidin menentang penjajahan keji Israel. Pelopor mereka adalah sayap militer Hamas, Izzuddin Al-Qassam. Mereka berlomba untuk melakukan aksi menjemput syahid di jantung Israel.

Seorang pemuda, sebut saja Khalid, dia terlibat dalam upacara pemakaman keluarganya yang meninggal akibat serangan Israel. Ia pun berteriak marah, “Kami katakan kepada para mujahidin yang ingin melakukan aksi syahid. Persiapkan diri kalian. Darah harus dibalas dengan darah. Mereka harus dibalas dengan sangat keras.”

Apa yang diteriakkan Khalid, juga diteriakkan oleh ratusan orang yang mengiringi jenazah penduduk yang menjadi korban, dengan kalimat yang berbeda-beda.

Ghaza yang hancur luluh. Ghaza yang dihantui deru pesawat terbang penghancur. Mereka semua berdo’a kepada Rabb langit dan bumi. Semoga mereka mendapat kesabaran dan kekuatan menghadapi derita yang tak putus ini… (na-str/iol)

Mencari Jati Diri


Berulang kali, kita dapati perilaku anak muda kita terjebak pada pola hidup hedonisme di sejumlah media di negeri kita. Serba Boleh. Apapun dilakukan demi untuk mendapatkan sebuah cita, walau kadang terlalu naif untuk dimengerti. Hanya untuk mendapat sebuah handphone seseorang gadis belia rela menggadaikan kehormatannya. Cuma sekedar untuk diterima sebagai kawan dalam pergaulan, remaja belasan tahun dengan mudah menjajakan ekstasi.

Yang Muda, sibuk dengan gaya hidup serba asyik serba mudah, menikmati syahwat dari satu pesta ke lain pesta. Yang Tua, sibuk dengan dunianya, pun dengan sejuta naluri hewani, sekitar perut dan -maaf antara dua kaki-, sikut kiri kanan untuk mendapatkan jabatan, tanpa peduli, untuk apa semuanya itu didapat.

Sementara, anak bangsa yang lain menjerit, kelaparan. Dua hari lalu diberitakan seorang ibu yang sedang hamil tua dengan empat anak anak, meninggal karena kelaparan. Sang anak bergumam, terbiasa bagi kami untuk tidak makan, kalaupun makan hanya dengan nasi, tanpa lauk. Duh Gusti.

Di sudut-sudut Jakarta, anak-anak belia usia sekolah berjejal di lampu merah, gerbong-gerbon KRL jabotabek menawarkan suara falsnya untuk menjumput rupiah demi sesuap nasi.

Para orang tua kita, masa bodoh dengan polah anak-anaknya yang lebih betah di pojok-pojok play stasiun dan warnet untuk memuaskan dahaga insting bermain atau sekedar mencari tahu apa itu 'permainan dewasa' yang sebenarnya.

Allhummaghfirlanaa.

Wahai Saudaraku, apa yang mesti kita perbuat. Apa yang talah, sedang dan akan kita berikan bagi mereka. Mereka butuh sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.

Sejatinya, kebahagiaan yang nyata adalah ketenangan dalam jiwa manusia. Menjadi seorang yang mampu mensinergikan kekayaan yang dimiliki, masa muda yang diamanahkan Allah swt untuk menjadi pribadi yang sholeh, tidak hanya untuk dirinya semata tapi untuk lingkungannya.
Tidak hanya sholih secara pribadi, akan tetapi enggan berderma untuk sesama, juga masa bodoh terdahap kefakiran dan kekufuran sekelilingnya.

Wahai sekalian Manusia, sesungguhnya Allah mencipakan untuk beribadah menyembah Allah sebagaimana Allah menciptakan makhluk sebelum kalian, agar kalian menjadi Taqwa. Firman Allah swt.

Mengenal diri, adalah sutu kemestian. Belajar mengenal diri akan mendorong kita untuk kembali mengevaluasi periode waktu yang sudah kita lewati. Akan kita apakan sisa waktu kita, menjadikannya lebih bermanfaat bagi sesama atau egp-emang gue pikirin.

Masya Allah, Laa Haula Wa laa Quwwata illa billah...

Kamis, Februari 28, 2008

Pendeta Spanyol Bolehkan Muslim Sholat di Masjid Granada


Masalah izin sholat di masjid Granada bagi Muslim Spanyol mengalami kemajuan. Setidaknya setelah petinggi gereja Spanyol mengatakan bahwa sholat secara individu di masjid tersebut takkan mengganggu orang lain. Pernyataan ini disampaikan setelah kurang dari dua pekan sebelumnya, Paus Benediktus XVI melakukan ritual keagamaan Kristen di masjid Azraq di Istanbul, saat kunjungan resminya ke Turki.

Ketua Konferensi Pendeta Spanyol, Ricardo Blaskits, mengatakan, kaum Muslimin mungkin saja melakukan sholat di dalam masjid Granada secara individu. “Jika kaum Muslimin masuk masjid untuk melihat mihrab misalnya, dan waktu shalat tiba lalu mereka ingin menunaikan shalat di dalam masjid, itu tidak masalah.”

Penciptaan Manusia

Penciptaan Manusia
Sesungguhnya Kami ciptakan Manusia dengan sebaik-baiknya bentuk